02 03 04

Share it

Rabu, 24 Agustus 2011

AKAL DAN NAFSU


AKAL DAN NAFSU
W.I. Hakim


Pentingnya akal bagi manusia.

            “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta ? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran” (QS. Ar Ra’d: 19).

Sesungguhnya pada diri manusia terdapat suatu bukti paling nyata untuk melihat secara objektif tentang adanya Alloh Swt. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan Alloh Swt dilengkapi dengan kelebihan  akal pikiran. Akal adalah ciptaan Alloh Swt yang sangat luar biasa, dengan akalnya manusia mampu membuat kemajuan zaman, kecanggihan teknologi, penemuan baru dibidang medis dan ilmu yang lainnya, menunjukan sangat luar biasanya akal yang dikaruniakan oleh Alloh Swt kepada manusia. Akal tidak diberikan kepada makhluk lain tetapi hanya kepada manusia. Karena manusia adalah makhluk yang diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi. Seandainya akal diberikan kepada sapi, kerbau, kambing atau binatang lainnya,  mungkin tidak ada manusia yang memakan daging binatang, tidak ada manusia yang memakai pakaian kulit binatang karena sebelum binatang disembelih, mereka akan melawan, justru daging manusia yang akan dimakan binatang dan kulit manusialah yang akan dipakai oleh binatang karena binatang tertentu secara fisik lebih kuat dari manusia. Mungkin juga kita akan menyaksikan bagaimana binatang menciptakan pesawat ulang alik antar planet atau antar galaksi dan  jangan heran jika tikus naik pesawat. Tapi itu tidak terjadi karena binatang tidak dikaruniai akal sehingga mereka tidak mampu mengembangkan kebudayaan. Binatang adalah makhluk yang mendasarkan segala kehidupannya kepada insting, kuatnya insting pada binatang menyebabkan anak binatang yang baru dilahirkan induknya atau ditetaskan induknya sudah mampu melakukan beberapa aktivitas yang dilakukan induknya. Berbeda halnya dengan manusia, menjadi makhluk paling lemah ketika dilahirkan, tidak mampu melakukan apa yang dilakukan ibunya, apalagi bisa makan nasi, tetapi harus melalui tahapan tertentu.  Disinilah pembentukan akal dimulai pada diri manusia sejak bayi melalui tahapan yang panjang sampai menuju ke arah kedewasaan akal pikiran. Usia bukan merupakan patokan kedewasaan akal pikiran, karena banyak orang yang usianya sudah tua tapi akal pikirannya masih seperti “anak-anak”, mudah tersinggung, tidak mau dikritik, selalu membanggakan diri, tidak senang melihat orang lain sukses dan sebagainya.
Akal merupakan “elemen” yang penting  bagi manusia. Dengan adanya akal manusia mampu mengembangkan IPTEK, mampu membuka sebagian rahasia dunia, dan mampu menanggulangi sebagian bencana serta mampu memberikan solusi untuk setiap permasalahan yang terjadi. Betapa dahsyatnya akal yang diciptakan  Alloh Swt yang diperuntukan bagi manusia. Sudahkah kita  mengoptimalkan akal yang diberikan Alloh kepada kita ? Sudahkah kita beragama dengan akal atau kita beragama hanya ikut-ikutan saja karena takut tidak dapat KTP ? padahal Islam merupakan satu-satunya agama yang menyuruh pemeluknya untuk selalu menggunakan akal, baik urusan dunia dan akhirat. Lalu untuk apa akal yang ada pada diri kita jika tidak dipakai untuk  mengungkap kebenaran Ilahi Robbi ? apakah hanya untuk akal-akalan atau mengakali orang ?  Akal yang ada pada diri setiap manusia itu suci tetapi karena manusia dilengkapi juga dengan nafsu, maka kadang-kadang akal tersisihkan sehingga manusia lebih banyak dikuasai oleh hawa nafsunya. Apakah kita termasuk manusia yang banyak menggunakan akal atau banyak menggunakan nafsu ? Siapkah kita mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan oleh akal dan nafsu kita ? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.  Alloh Swt menciptakan akal bagi manusia bukan untuk main-main tapi nanti akan dipertanggungjawabkan.
Akal yang diberikan Alloh Swt kepada kita merupakan ujian bagi kehidupan manusia. Ujian hanya diberikan kepada makhluk  yang berakal, ujian pertama yang dilalui manusia adalah  ketika manusia dilahirkan ke dunia. Ujian berikutnya adalah ketika dia beranjak dewasa, diuji atas akal yang diberikan oleh Alloh Swt, apakah akal tersebut membawanya beriman dan bertaqwa kepada Alloh Swt ataukah ingkar kepada Aloh Swt. Apakah orang tersebut akan mampu melewati ujian atau tidak bergantung dari bagaimana akalnya menuntun keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh Swt? Memang betul, bahwa orang beriman dan tidak beriman adalah hidayah Alloh Swt, tetapi hidayah tidak gampang diperoleh, kecuali oleh manusia yang sungguh-sungguh mendekatkan diri pada Alloh Swt.


Nafsu sebagai penyeimbang akal

Nafsu yang ada pada diri manusi selalu menyuruh atau mengajak pada kejahatan bahkan tunduk kepada syahwat dan panggilan syaitan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Alloh Swt. Banyak sekali manusia yang menuruti hawa nafsunya dan menjadikan nafsu sebagai Ilah. Adanya nafsu pada diri manusia sehingga menyebabkan manusia menjadi makhluk yang tidak akan pernah merasa puas terhadap sebuah hasil yang didapatkan sampai mati. Sifat tidak puas ini diusung oleh nafsu agar manusia tidak menggunakan akal dalam mencapai keinginannya. Nafsu ini mendorong manusia untuk terus berhubungan dengan material duniawi supaya serakah pada jabatan, kekuasaan, harta kekayaan dsb, sehingga menjadi manusia yang cinta dunia dan melupakan hari pembalasan di akhirat. Manusia seperti itu lebih sesat dari binatang, mereka tidak mau menggunakan akalnya untuk memahami kebenaran Ilahi Robbi, akalnya sudah tersisihkan dan seluruh hidupnya dikuasai oleh nafsu. Tidak semua nafsu menyebabkan manusia berbuat jahat tetapi ada nafsu yang dirahmati oleh Alloh Swt yaitu nafsu yang mendorong manusia untuk melakukan kegiatan yang positif sesuai dengan tuntunan agama.  Dorongan nafsu yang dirahmati Alloh Swt akan mendorong  seseorang tidak puas untuk terus mendekatkan diri kepada Alloh Swt karena merasa ibadahnya belum benar, belum optimal bahkan merasa dirinya paling sedikit amalnya kepada Alloh Swt, ingin terus menyerahkan diri kepada Alloh Swt untuk meningkatkan ketaqwaannya.
Ketika nafsu dan akal bersatu menjadi sebuah keseimbangan akan menyebabkan hal-hal yang bersifat positif. Kemajuan IPTEK sebetulnya bukan hanya dikembangkan oleh akal saja tetapi nafsupun ikut berperan dalam perkembangan IPTEK, sebab jika tidak ada nafsu manusia tidak akan berlomba-lomba untuk menemukan teknologi yang canggih (modern), bahkan mungkin tidak ada perkembangan teknologi. Mengapa demikian? Sebagai contoh nyata bahwa para malaikat Alloh Swt hanya diberikan akal tidak diberikan nafsu, mereka (para malaikat) tidak mengembangkan IPTEK karena tidak ada dorongan nafsu.  Sehingga akal dan nafsu yang ada pada diri manusia merupakan sebuah keseimbangan yang harmonis jika mampu mengendalikannya. Menjadi berbahaya jika timpangnya jatuh pada nafsu. Akal dan nafsu mempengaruhi kebutuhan jasmani dan rokhani manusia. Secara garis besar apapun yang dilakukan akal dan nafsu pada diri manusia akibatnya hanya dua yaitu positif dan negatif. Sehingga perpaduan antara akal dan nafsu sangat diperlukan agar terjadi sebuah keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rokhani pada diri manusia.
Solusi ideal antar kebutuhan rokhani dan jasmani pada diri manusia adalah menyeimbangkan keduanya. Di satu sisi manusia membutuhkan pemenuhan kebutuhan jasmani dalam batas-batas tertentu yang diperbolehkan oleh syariat Islam. Dan disisi lain manusia harus memenuhi kebutuhan rokhani untuk berdekatan dengan Tuhannya. Islam mengajarkan keseimbangan keduanya agar manusia tidak mengalami ketimpangan tetapi ada keseimbangan antara dunia dan akhirat.

“Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Alloh kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniamu” (QS. Al-Qashash: 77).

Bagaimanakah kita meningkatkan kualitas diri dengan memanfaatkan akal dan nafsu  sehingga terjadi keseimbangan antara keduanya ? Kualitas setiap pribadi muslim dan muslimah akan berbeda satu sama lain, tetapi Islam sebagai agama yang Rohmatan Lil’alamin memberikan kiat-kiat agar setiap individu muslim dan muslimah menjadi individu yang cerdas, mandiri, beriman dan bertaqwa kepada Alloh Swt.
Ada lima tahapan peningkatan kualitas diri seorang muslim/muslimah yaitu
1.      Tekad yang kuat untuk meningkatkan kualitas diri (Musyarathah)
2.      Pemantauan terhadap tekad yang dicanangkan (Muraqabah)
3.      Menimbang sedetail mungkin upaya pelaksanaan peningkatan diri (Muhasabah).
4.      Memberikan sanksi terhadap kelalaian (Mu’aqabah).
5.      Melakukan kritik terhadap diri sendiri (Tawbikh wa Mu’atabah).

Sumber: disarikan dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bagaimana komentar Anda?