02 03 04
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 29 September 2010

Bekerja Ikhlas (Profesional)

Bekerja Ikhlas adalah Profesional
W.I. Hakim
H. Ahmad Safari, S.Pd, M.Si

Bekerja penuh keikhlasan
Islam mengajak manusia berserah diri dan bertawakal kepada Allah, setelah segala sesuatunya diupayakan dengan kerja keras, tidak putus asa serta semangat pantang menyerah, Islam tidak mengakui sikap fatalistik, apalagi mendorong umatnya melakukan sikap seperti itu, firman Allah SWT:

“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu…” (QS At-Taubah:105).

Ayat tersebut di atas, mengisyaratkan kepada kita bahwa bekerja merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk berleha-leha, tetapi diharuskan untuk memanfaatkan dan mengefektifkan waktu seoptimal mungkin supaya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Sehingga umat Islam diharapkan menjadi contoh umat yang produktif, pekerja keras, disiplin, dengan penuh keikhlasan dalam melakukan pekerjaan tersebut. Namun kenyataan yang ada sebaliknya, terjadi pada umat Islam. Rasanya kita perlu banyak berkaca dan banyak introspeksi pada diri sendiri untuk memperbaiki kondisi seperti ini, padahal banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang menyuruh umat Islam untuk bekerja keras. Faktanya, kita lebih banyak “berusaha keras” untuk istirahat dan bermalas-malasan.
Jika dibandingkan dengan negara maju yang notabene banyak Non-Muslimnya, mereka lebih produktif, lebih kerja keras dan penuh kedisiplinan, sikap seperti ini sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, padahal mereka tidak mengenal Al-Qur’an. Kita yang punya Al-Qur’an malah sebaliknya, lebih banyak waktu yang hilang dengan sia-sia dari pada yang dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produktifitas. Disini mungkin kita terjebak kedalam anggapan berserah diri dan bertawakal kepada Allah, kita belum maksimal dalam usaha sudah langsung “berserah diri dan bertawakal”. Padahal bertawakal kepada Allah SWT berarti mendayagunakan seluruh potensi yang dimiliki oleh kita (manusia), untuk memikirkan, merencanakan dan mengupayakan cara-cara yang benar dan tepat dalam melakukan pekerjaan supaya mencapai hasil optimal, agar mendapat keridhoan Allah SWT. Bertawakal kepada Allah, berserah diri dan bersandar kepada-Nya harus dipadukan dengan harapan yang hendak dicapai, perencanaan yang matang, program dan pelaksanaan kerja yang tertata dengan rapi, untuk mencapai tujuan yang mulia, yaitu semuanya harus berakhir kepada Allah SWT. Seperti Firman-Nya dalam Al-Qur’an:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah….” (QS Al Jumuah: 10).

Ayat tersebut menuntun kita, setelah melakukan kewajiban shalat dan berdoa kepada Allah, maka hendaklah kita tidak terlena dengan do’a saja, langkah dan upaya kitapun harus maksimal. Do’a kita jadikan sebagai sarana suci yang dapat memotivasi kita setelah berhubungan langsung dengan Allah sebagai pencipta, pemilik dan pengendali kita. Setelah shalat dan berdoa, semangat kita harus lebih tinggi karena yang memotivasi adalah Sang Pencipta yang memegang dan memiliki kekayaan tak terhingga, pemberi rizki yang tidak pernah kikir, Allah SWT. Dengan semangat ke-Tuhanan kita tunjukan kepada dunia luar bahwa umat Islam sanggup kerja keras dan lebih produktif, karena langkah dan upayanya didasarkan pada keikhlasan dan ketawakalan kepada Allah.

Bekerja tidak terbebani, terpaksa dan tertekan
Bumi Allah yang sangat luas, menyediakan berbagai macam rizki, kekayaan alam yang melimpah ruah, memerlukan umat yang brilian untuk mengelolanya dengan keikhlasan. Bumi ini tanda kebesaran Allah, yang didalamnya banyak matapencaharian yang disediakan, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Seperti difirmankan oleh Allah SWT:

”Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya.”(QS Al Kahfi:7)
“Dan tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan kami jadikan daripadanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur ?” (QS Yasin: 33-35).

Rangkaian ayat tersebut menuntut manusia agar bersyukur kepada Allah SWT dengan cara beriman dan bertaqwa kepada-Nya, atas nikmat yang telah dianugrahkan-Nya. Nikmat tersebut yaitu;
  1. Allah SWT telah memberi kesempatan kepada manusia untuk bekerja secara produktif dan sukses dalam hidupnya, dan kesempatan yang diberikan Allah SWT ini bergantung pada pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sendiri disamping menyandarkan diri kepada kehendak-Nya.
  2. Kehendak Allah menyediakan lingkungan agar manusia dapat hidup didalamnya.

Bekerja merupakan tugas manusia dalam hidup untuk mencari nafkah dalam memenuhi kebutuhan lahir atau jasmani, tidak boleh melakukannya dengan terpaksa, tertekan dan terbebani tetapi harus menikmatinya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan karena merupakan bagian dari amal ibadah kepada Allah SWT. Tidak ada kebahagiaan, kenikmatan dan kesuksesan yang datang dengan sendirinya penuh kemudahan, tetapi harus didapatakan dengan kerja keras dan mengalami proses yang harus dalalui untuk mencapainya, tidak semudah membalik telapak tangan. Disinilah keuletan dan kesabaran dibutuhkan.
Jika seseorang mempunyai kekayaan hidup yang melimpah dan ia dapat hidup tanpa bekerja, maka ia tidak akan dapat memahami nilai-nilai kemanusiaannya dan tidak mengetahui tugas hidup yang sebenarnya, hanya menikmati keindahan, kesenangan dan kenikmatan sesaat, tanpa jelas tujuan akhir hidupnya. Kenikmatan duniawi bukan merupakan tujuan akhir dalam hidup manusia, melainkan hanya sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki. Menurut Al Qur’an, faktor yang mendekatkan atau menjauhkan manusia dari realisasi tujuan hidupnya adalah ilmu dan amal perbuatan. Bermanfaatkah amal bagi orang banyak, atau merugikan mereka ?
Manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya mempunyai tujuan hidup yaitu mencapai kesuksesan dalam hidupnya, tetapi umat Islam selain kesuksesan ada kelebihan lain yaitu mendapat keridhoan Allah SWT, untuk mencapai kehidupan di akhirat. Untuk mencapai keridhoan Allah tidaklah mudah, harus menghadapi rintangan dan hambatan yang tidak gampang dilalui. Jika sudah mampu melewati jalan ini maka harus selalu berada pada jalan yang benar, menegakan kebenaran serta menghancurkan kebathilan. Misi kebenaran dan menghancurkan kebathilan adalah misi kebaikan.
Menurut Abdul Hamid Mursi (1997), ada tiga unsur yang harus dilakukan oleh setiap muslim untuk menciptakan kehidupan yang positif dan produktif, yaitu:
  1. Mendayagunakan potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT untuk bekerja, melaksanakan gagasan dan memproduksi
  2. Bertawakal kepada Allah SWT, berlindung dan meminta pertolongan kepadanya pada waktu melakukan pekerjaan.
  3. Percaya kepada Allah bahwa ia mampu menolak bahaya, kesombongan dan kediktatoran yang memasuki lapangan pekerjaan.

Islam menjadikan amal sebagai hak asasi dan kewajiban individu, Rasulullah SAW menganjurkan bekerja, mendorongnya dan berpesan agar pekerjaan dilakukan secara profesional, sebagaimana berpesan untuk berbuat adil dan tepat waktu dalam menggaji pekerja. Wallahu‘alam.

Disarikan dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bagaimana komentar Anda?