02 03 04

Kamis, 30 September 2010

DARI TIDAK ADA MENJADI ADA: DENTUMAN BESAR (THE BIG BANG)


DARI TIDAK ADA MENJADI ADA:
DENTUMAN BESAR (THE BIG BANG)

Tahukah Anda bahwa segala sesuatu yang Anda lihat di sekitar Anda, tubuh Anda sendiri, rumah yang Anda huni, kursi yang Anda duduki, ayah dan ibu Anda, pepohonan, burung-burung, tanah dan buah-buahan, singkatnya, semua makhluk hidup dan benda mati yang mampu Anda bayangkan, timbul melalui bergabungnya atom-atom yang disebabkan oleh “Dentuman Besar” atau Big Bang? Sadarkah Anda akan kenyataan bahwa, setelah ledakan ini, muncullah keteraturan yang sempurna di seluruh jagat raya? Lalu, apakah “Dentuman Besar” itu?
Selama satu abad terakhir, serangkaian percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan teknologi mutakhir, telah mengungkapkan tanpa ragu bahwa alam semesta memiliki permulaan. Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta berada dalam keadaan yang terus mengembang. Dan mereka telah menyimpulkan bahwa, karena alam semesta mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur dalam waktu, alam semesta ini tentulah memulai pengembangannya dari sebuah titik tunggal. Sungguh, kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini adalah alam semesta bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut “Dentuman Besar” atau Big Bang.
Penciptaan suatu keteraturan sempurna menyusul peristiwa Big Bang sama sekali bukanlah gejala yang dapat dianggap sebagai peristiwa biasa. Pikirkanlah tentang kenyataan bahwa beribu-ribu jenis ledakan sering terjadi di bumi, tetapi tak ada keteraturan yang dihasilkannya. Bahkan sebaliknya, semua itu mengarah ke akibat yang menghancurkan, merusak, dan membinasakan. Contohnya, bila bom atom atau bom hidrogen, letusan gunung berapi, ledakan gas alam, dan ledakan yang terjadi di matahari diamati, kita dapat melihat bahwa dampak yang ditimbulkannya selalu membahayakan. Akibat yang bersifat membangun keteraturan atau sesuatu yang lebih baik tidak pernah diperoleh sebagai akibat dari suatu ledakan. Akan tetapi, menurut data ilmiah yang diperoleh dengan bantuan teknologi modern, Big Bang, yang terjadi ribuan tahun lalu, menyebabkan perubahan dari tiada menjadi ada, bahkan menghadirkan keberadaan yang sangat teratur dan selaras.
Sekarang, mari kita pikirkan contoh berikut: Di bawah tanah, terjadi ledakan dinamit dan, setelah ledakan ini, istana paling indah yang pernah disaksikan dunia, lengkap dengan jendela, pintu, dan perabotan yang mewah dan indah, tiba-tiba muncul. Masuk akalkah untuk menyatakan bahwa, “Ini menjadi ada secara kebetulan”? Dapatkah istana itu terwujud dengan sendirinya? Tentu saja tidak!
Alam semesta yang terbentuk setelah Big Bang merupakan sistem yang demikian hebat, terencana dengan sangat cermat, dan menakjubkan sehingga ini sudah pasti tidak mungkin disejajarkan dengan istana yang ada di bumi. Dalam keadaan seperti ini, sama sekali tidak masuk akal untuk menyatakan bahwa alam semesta menjadi ada dengan sendirinya. Alam semesta tiba-tiba saja muncul menjadi ada dari ketiadaan. Hal ini menunjukkan kepada kita keberadaan Pencipta Yang menciptakan benda atau materi dari ketiadaan dan Yang menjaganya setiap saat dalam kendali-Nya. Dialah Yang Maha Bijaksana dan Mahakuasa. Sang Pencipta ini adalah Allah, Yang Mahaperkasa.
Sumber:
Website: www.harunyahya.com 
E-mail: info@harunyahya.com

Rabu, 29 September 2010

Bekerja Ikhlas (Profesional)

Bekerja Ikhlas adalah Profesional
W.I. Hakim
H. Ahmad Safari, S.Pd, M.Si

Bekerja penuh keikhlasan
Islam mengajak manusia berserah diri dan bertawakal kepada Allah, setelah segala sesuatunya diupayakan dengan kerja keras, tidak putus asa serta semangat pantang menyerah, Islam tidak mengakui sikap fatalistik, apalagi mendorong umatnya melakukan sikap seperti itu, firman Allah SWT:

“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu…” (QS At-Taubah:105).

Ayat tersebut di atas, mengisyaratkan kepada kita bahwa bekerja merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk berleha-leha, tetapi diharuskan untuk memanfaatkan dan mengefektifkan waktu seoptimal mungkin supaya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Sehingga umat Islam diharapkan menjadi contoh umat yang produktif, pekerja keras, disiplin, dengan penuh keikhlasan dalam melakukan pekerjaan tersebut. Namun kenyataan yang ada sebaliknya, terjadi pada umat Islam. Rasanya kita perlu banyak berkaca dan banyak introspeksi pada diri sendiri untuk memperbaiki kondisi seperti ini, padahal banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang menyuruh umat Islam untuk bekerja keras. Faktanya, kita lebih banyak “berusaha keras” untuk istirahat dan bermalas-malasan.
Jika dibandingkan dengan negara maju yang notabene banyak Non-Muslimnya, mereka lebih produktif, lebih kerja keras dan penuh kedisiplinan, sikap seperti ini sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, padahal mereka tidak mengenal Al-Qur’an. Kita yang punya Al-Qur’an malah sebaliknya, lebih banyak waktu yang hilang dengan sia-sia dari pada yang dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produktifitas. Disini mungkin kita terjebak kedalam anggapan berserah diri dan bertawakal kepada Allah, kita belum maksimal dalam usaha sudah langsung “berserah diri dan bertawakal”. Padahal bertawakal kepada Allah SWT berarti mendayagunakan seluruh potensi yang dimiliki oleh kita (manusia), untuk memikirkan, merencanakan dan mengupayakan cara-cara yang benar dan tepat dalam melakukan pekerjaan supaya mencapai hasil optimal, agar mendapat keridhoan Allah SWT. Bertawakal kepada Allah, berserah diri dan bersandar kepada-Nya harus dipadukan dengan harapan yang hendak dicapai, perencanaan yang matang, program dan pelaksanaan kerja yang tertata dengan rapi, untuk mencapai tujuan yang mulia, yaitu semuanya harus berakhir kepada Allah SWT. Seperti Firman-Nya dalam Al-Qur’an:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah….” (QS Al Jumuah: 10).

Ayat tersebut menuntun kita, setelah melakukan kewajiban shalat dan berdoa kepada Allah, maka hendaklah kita tidak terlena dengan do’a saja, langkah dan upaya kitapun harus maksimal. Do’a kita jadikan sebagai sarana suci yang dapat memotivasi kita setelah berhubungan langsung dengan Allah sebagai pencipta, pemilik dan pengendali kita. Setelah shalat dan berdoa, semangat kita harus lebih tinggi karena yang memotivasi adalah Sang Pencipta yang memegang dan memiliki kekayaan tak terhingga, pemberi rizki yang tidak pernah kikir, Allah SWT. Dengan semangat ke-Tuhanan kita tunjukan kepada dunia luar bahwa umat Islam sanggup kerja keras dan lebih produktif, karena langkah dan upayanya didasarkan pada keikhlasan dan ketawakalan kepada Allah.

Bekerja tidak terbebani, terpaksa dan tertekan
Bumi Allah yang sangat luas, menyediakan berbagai macam rizki, kekayaan alam yang melimpah ruah, memerlukan umat yang brilian untuk mengelolanya dengan keikhlasan. Bumi ini tanda kebesaran Allah, yang didalamnya banyak matapencaharian yang disediakan, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Seperti difirmankan oleh Allah SWT:

”Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya.”(QS Al Kahfi:7)
“Dan tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan kami jadikan daripadanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur ?” (QS Yasin: 33-35).

Rangkaian ayat tersebut menuntut manusia agar bersyukur kepada Allah SWT dengan cara beriman dan bertaqwa kepada-Nya, atas nikmat yang telah dianugrahkan-Nya. Nikmat tersebut yaitu;
  1. Allah SWT telah memberi kesempatan kepada manusia untuk bekerja secara produktif dan sukses dalam hidupnya, dan kesempatan yang diberikan Allah SWT ini bergantung pada pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sendiri disamping menyandarkan diri kepada kehendak-Nya.
  2. Kehendak Allah menyediakan lingkungan agar manusia dapat hidup didalamnya.

Bekerja merupakan tugas manusia dalam hidup untuk mencari nafkah dalam memenuhi kebutuhan lahir atau jasmani, tidak boleh melakukannya dengan terpaksa, tertekan dan terbebani tetapi harus menikmatinya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan karena merupakan bagian dari amal ibadah kepada Allah SWT. Tidak ada kebahagiaan, kenikmatan dan kesuksesan yang datang dengan sendirinya penuh kemudahan, tetapi harus didapatakan dengan kerja keras dan mengalami proses yang harus dalalui untuk mencapainya, tidak semudah membalik telapak tangan. Disinilah keuletan dan kesabaran dibutuhkan.
Jika seseorang mempunyai kekayaan hidup yang melimpah dan ia dapat hidup tanpa bekerja, maka ia tidak akan dapat memahami nilai-nilai kemanusiaannya dan tidak mengetahui tugas hidup yang sebenarnya, hanya menikmati keindahan, kesenangan dan kenikmatan sesaat, tanpa jelas tujuan akhir hidupnya. Kenikmatan duniawi bukan merupakan tujuan akhir dalam hidup manusia, melainkan hanya sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki. Menurut Al Qur’an, faktor yang mendekatkan atau menjauhkan manusia dari realisasi tujuan hidupnya adalah ilmu dan amal perbuatan. Bermanfaatkah amal bagi orang banyak, atau merugikan mereka ?
Manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya mempunyai tujuan hidup yaitu mencapai kesuksesan dalam hidupnya, tetapi umat Islam selain kesuksesan ada kelebihan lain yaitu mendapat keridhoan Allah SWT, untuk mencapai kehidupan di akhirat. Untuk mencapai keridhoan Allah tidaklah mudah, harus menghadapi rintangan dan hambatan yang tidak gampang dilalui. Jika sudah mampu melewati jalan ini maka harus selalu berada pada jalan yang benar, menegakan kebenaran serta menghancurkan kebathilan. Misi kebenaran dan menghancurkan kebathilan adalah misi kebaikan.
Menurut Abdul Hamid Mursi (1997), ada tiga unsur yang harus dilakukan oleh setiap muslim untuk menciptakan kehidupan yang positif dan produktif, yaitu:
  1. Mendayagunakan potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT untuk bekerja, melaksanakan gagasan dan memproduksi
  2. Bertawakal kepada Allah SWT, berlindung dan meminta pertolongan kepadanya pada waktu melakukan pekerjaan.
  3. Percaya kepada Allah bahwa ia mampu menolak bahaya, kesombongan dan kediktatoran yang memasuki lapangan pekerjaan.

Islam menjadikan amal sebagai hak asasi dan kewajiban individu, Rasulullah SAW menganjurkan bekerja, mendorongnya dan berpesan agar pekerjaan dilakukan secara profesional, sebagaimana berpesan untuk berbuat adil dan tepat waktu dalam menggaji pekerja. Wallahu‘alam.

Disarikan dari berbagai sumber.

Rabu, 22 September 2010

Keutamaan Al Fatihah


KEUTAMAAN AL-FATIHAH
Nama-nama lain Al-Fatihah : Fatihatul-Kitab, Ummul Kitab, Ummul-Qur'an, as-Sab'ul-Matsani, al-Qur'anul-`Azhim,asy-Syifa, dan Assaul-Qur'an.
Imam Ahmad bin Hambal r.a. meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, "Rasulullah saw. Menemui Ubai bin Ka'ab, namun dia sedang shalat. Rasul berkata, `Hai Ubai.' Maka Ubai melirik, namun tidak menyahut. Nabi berkata, `Hai Ubai!' Lalu Ubai mempercepat shalatnya, kemudian beranjak menemui Rasulullah saw. Sambil berkata, `Asalamu'alaika, ya Rasulullah.' Rasul menjawab, `Wa'alaikassalam. Hai Ubai, mengapa kamu tidak menjawab ketika kupanggil?' Ubai menjawab, `Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang shalat.'
Nabi bersabda, `Apakah kamu tidak menemukan dalam ayat yang diwahyukan Allah Ta'ala kepadaku yang menyatakan, `Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.' (al-Anfal:24)
Ubai menjawab, `Ya Rasulullah, saya menemukan dan saya tidak akan mengulangi hal itu.' Rasul bersabda, `Sukakah kamu bila kuajari sebuah surat yang tidak diturunkan surat lain yang serupa dengannya di dalam Taurat, Injil, Zabur dan al-Furqan?' Ubai menjawab, `Saya suka, wahai Rasulullah.'
Rasulullah saw. Bersabda, `Sesungguhnya aku tidak mau keluar dari pintu ini sebelum aku mengajarkannya.' Ubai berkata, `Kemudian Rasulullah memegang tanganku sambil bercerita kepadaku. Saya memperlambat jalan karena khawatir beliau akan sampai di pintu sebelum menuntaskan pembicaraannya. Ketika kami sudah mendekati pintu, aku berkata, `Ya Rasulullah, surat apakah yang janjikan itu?' Beliau bertanya, `Apa yang kamu baca dalam shalat?' Ubai berkata, `Maka aku membacakan Ummul-Qur'an kepada beliau.'
Beliau bersabda, `Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, Allah tidak menurunkan surat yang setara dengan itu baik dalam Taurat,Injil,Zabur,maupun al-Furqan. Ia merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.'
"Muslim meriwayatkan dalam sahihnya dan Nasa'I meriwayatkan dalam sunannya dengan sanad dari Ibnu, dia berkata, "Suatu ketika Rasulullah saw. (sedang duduk) dan di sisinya ada Jibril. Tiba-tiba jibril mendengar suara dari atas. Maka dia mengarahkan pandangannya ke langit, lalu berkata, `Inilah pintu langit dibukakan, padahal sebelumnya tidak pernah.' Ibnu Abbas berkata, "Gembirakanlah (umatmu) dengan dua cahaya. Sungguh keduanya diberikan lepadamu dan tidak pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu, yaitu Fatihatul-Kitab dan beberapa ayat terakhir surat al-Baqarah. Tidakkah Anda membaca satu hurufpun darinya melainkan Anda akan diberi (pahalanya).'"
Sumber:
E-book Islami

Selasa, 31 Agustus 2010

KEWUJUDAN ALAM SEMESTA

KEWUJUDAN ALAM SEMESTA
Dalam AL-QURAN

Asal usul alam semesta diterangkan dalam Al-Qur'an dalam ayat berikut; “Dia adalah maha Pencipta langit dan bumi”.(Surat al-An'aam:101.) Maklumat yang dinyatakan dalam Al-Qur'an ini adalah satu fakta yang sangat tepat dan selari dengan penemuan sains kontemporari. Kesimpulan yang dicapai dalam bidang astrofizik hari ini ialah bahawa alam semesta, bersama-sama dengan dimensi benda dan masa, telah terhasil melalui satu letupan yang besar yang terjadi ketika masa-sifar. Fenomena ini yang dikenali sebagai Big Bang membuktikan bahawa alam semesta telah diciptakan dari ketiadaan sebagai satu produk, dari satu letupan titik tunggal. Golongan saintifik moden percaya bahawa Big Bang adalah satu-satunya penerangan paling rasional dan fakta yang dapat dibuktikan mengenai permulaan dan asal kewujudan alam semesta. Sebelum fenomena Big Bang terjadi, tidak terdapat sebarang benda yang wujud. Dalam keadaan tanpa sebarang kewujudan kebendaan, tenaga atau masa, dan yang mana hanya dapat diterangkan secara metafizik, semuanya ini sebenarnya telah diciptakan. Fakta ini, yang baru diketahui melalui kajian dalam bidang fizik moden, telah dinyatakan dalam Al-Qur'an 1400 tahun lalu.



PENGEMBANGAN ALAM SEMESTA
Dalam Al-Qur'an yang diwahyukan 1400 tahun lalu, ketika pengetahuan tentang astronomi masih sedikit, fakta mengenai pengembangan alam semesta telah diterangkan seperti berikut; Dan langit itu Kami bina dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan nya. (Surah az-Dzariyat;47)



Edwin Hubble
Perkataan 'langit' yang dinyatakan dalam ayat di atas digunakan dalam banyak tempat dalam Al-Qur'an yang bermaksud ruang angkasa dan cakerawala. Di sini sekali lagi, perkataan ini digunakan untuk maksud ini. Dalam perkataan lain, Al-Qur'an mendedahkan hakikat mengenai proses pengembangan alam semesta. Dan ini merupakan puncak kesimpulan yang diputuskan oleh dunia sains hari ini. Sehingga penghujung abad ke 20, pandangan yang paling masyhur dalam dunia sains ialah bahawa 'alam semesta mempunyai sifat konstan (statik) dan telah wujud tanpa keterbatasan masa'. Kajian, pemerhatian dan pengiraan yang dijalankan melalui seluruh insfranstruktur teknologi moden, sebenarnya telah menunjukkan bahawa alam semesta telah wujud dalam masa yang terbatas dan berkembang secara konstan. Pada permulaan abad ke 20, seorang ahli fizik Russia Alexander Friedmann dan ahli kosmologi Belgium George Le'maitre telah membuat pengiraan secara teori bahawa alam semesta adalah dalam keadaan pergerakan yang berterusan dan ia sebenarnya berkembang. Fakta ini juga telah dibuktikan melalui data dari pemerhatian yang dijalankan pada tahun 1929. Edwin Hubble seorang ahli astronomi Amerika yang membuat pemerhatian di langit dengan menggunakan teleskop, mengisytiharkan bahawa bintang-bintang dan galaksi-galaksi bergerak menjauhi antara satu sama lain secara berterusan. Sebuah alam semesta di mana semua benda di dalamnya secara konstan bergerak menjauhi sesama mereka, jelas menggambarkan pengembangan alam semesta itu. Pemerhatian yang dijalankan dalam tahun berikutnya mengesahkan bahawa alam semesta adalah berkembang secara berterusan. Fakta ini telah di jelaskan dalam Al-Qur'an ketika mana hal ini masih belum lagi pernah diketahui oleh manusia. Ini adalah kerana Al-Qur'an adalah kalam Tuhan, maha Pencipta dan Pemerintah bagi seluruh alam semesta.

PEMISAHAN LANGIT DAN BUMI
Sepotong ayat mengenai penciptaan langit dinyatakan sebagai berikut.ayat. "dan apakah orang-orang kafir itu tidak melihat bahawasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu (satu unit penciptaan), kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakan mereka tiada juga beriman?". (Surah Al-Anbia: 30) Kalimah 'ratq' diertikan sebagai dijahit yang bermaksud 'dikumpul bersama, dicampur' dalam kamus bahasa arab. Ianya digunakan untuk merujuk dua intipati yang berbeza yang membina suatu yang menyeluruh. Frasa 'Kami membuka jahitan; adalah perkataan fataq dalam bahasa arab dan menggambarkan bahawa sesuatu yang diwujudkan dengan membelah bahagian atau memusnahkan struktur ratq. Biji benih yang tumbuh bertunas dari tanah adalah satu contoh frasa ini. Sekarang mari kita perhatikan sejenak ayat ini sekali lagi dengan menyimpan pemahaman ini di dalam minda. Di dalam ayat tersebut, langit dan bumi pada status pertamanya adalah berbentuk ratq. Kedua-duanya di pisahkan (fataqa) dengan kemunculan satu dari yang satu lagi. Apa yang menarik, apabila kita mengingati saat pertama fenomena Big Bang kita melihat bahawa satu titik tunggal mengandungi semua material alam semesta. Dalam perkataan lain, setiap benda termasuk langit dan bumi yang masih belum diciptakan lagi, juga termasuk di dalam titik tunggal ini dalam keadaan ratq. Titik ini kemudiannya meletup dalam satu letupan yang besar, menyebabkan materialnya menjadi fataq dan proses ini membentuk keseluruhan struktur alam semesta. Apabila kita membandingkan pernyataan di dalam ayat Al-Qur'an di atas dengan penemuan saintifik, kita mendapati bahawa kedua-duanya berada dalam keserasian yang sempurna di antara satu sama lain. Apa yang cukup menarik perhatian ialah penemuan ini tidak diketahui sehingga abad ke 20.

ORBIT DI DALAM AL-QURAN
Ketika menerangkan mengenai bulan dan matahari dalam Al-Qur'an, ianya ditekankan bersama bahawa setiap satunya mempunyai laluan orbit tertentu; “Dia yang menjadikan malam dan siang, matahari dan bulan, setiap mereka berenang di falak (tempat peredarannya).” (Surah al-Anbiya; 33) Dalam ayat lain dinyatakan juga bahawa matahari sebenarnya bukan objek yang static tetapi juga mempunyai orbitnya tertentu; “Dan matahari beredar di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang maha Perkasa dan maha Mengetahui. “ (Surah Yaasin;38). Fakta yang dikemukakan dalam Al-Qur'an ini telah ditemui melalui pemerhatian astronomi hari ini. Berdasarkan kepada kiraan pakar-pakar astronomi, matahari bergerak dalam kelajuan yang besar selaju 720, 000 km sejam mengarah ke bintang Vega dalam satu orbit tertentu dalam sistem Solar Apex. Ini bererti matahari bergerak sejauh 17,280,000 km sejam secara anggaran. Bersama-sama dengan matahari, dan semua planet dan satelit yang berada dalam lingkungan sistem graviti matahari (sistem solar) juga turut bergerak pada jarak yang sama. Sebagai tambahan, semua bintang dalam alam semesta adalah berada dalam satu persamaan pergerakan yang telah ditentukan. Lanjutan hal ini, iaitu alam semesta dipenuhi dengan lintasan dan orbit telah dimaktubkan di dalam Al-Qur'an; “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan” (Surah az-Dzariyat;7) Terdapat lebih kurang 200 bilion galaksi dalam alam semesta, yang mengandungi hampir 200 billion bintang setiap satu. Kebanyakan dari bintang-bintang ini mempunyai planet-planet dan kebanyakan dari planet ini mempunyai satelit. Semua objek-objek langit ini bergerak menepati orbit-orbit yang telah dicongak. Untuk berapa juta tahun, semuanya 'berenang' melintasi orbit masing-masing dalam keseimbangan dan susunan yang sempurna bersama-sama dengan yang lain. Selanjutnya, bilangan komet yang banyak juga bergerak bersama dalam orbit-orbit yang telah ditentukan untuk mereka. Orbit-orbit dalam alam semesta bukan sahaja dimiliki oleh jasad-jasad langit ini, tetapi juga dimiliki oleh galaksi-galaksi yang bergerak pada kelajuan yang besar dalam orbit-orbit yang telah ditetapkan. Sewaktu dalam pergerakan, tidak ada satupun objek langit ini yang memotong orbit atau bertembung dengan objek lain. Suatu yang pasti, ketika Al-Qur'an di turunkan manusia tidak mempunyai sebarang teleskop seperti hari ini atau teknologi pemerhatian yang maju untuk memerhati jutaan kilometer ruang angkasa, dan juga tanpa pengetahuan fizik atau astronomi yang moden. Dengan hal ini, ianya suatu yang mustahil ketika itu untuk menentukan secara saintifik bahawa ruang langit 'dipenuhi dengan lintasan dan orbit' seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur'an. Bagaimanapun, hal ini secara jelas diterangkan kepada manusia dalam Al-Qur'an yang diwahyukan ketika itu -kerana Al-Qur'an sebenarnya adalah kalam Tuhan.



BENTUK SFERA BUMI
"Dia menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran. Dia membungkuskan malam atas siang dan membungkuskan siang atas malam... (Surah Az-Zumar:5) Dalam Al-Qur'an, perkataan yang digunakan untuk menerangkan alam semesta adalah sangat penting. Kalimah arab yang diertikan sebagai 'membalut' dalam ayat di atas adalah 'takwir', dan dalam bahasa inggeris, ia bermakud 'menjadikan sesuatu membalut sesuatu yang lain, dililit sebagai satu pakaian yang terhampar. Sebagai contoh, dalam kamus arab perkataan ini digunakan untuk perbuatan membalut sesuatu mengelilingi suatu yang lain seperti mana orang yang memakai serban. Maklumat yang diertikan di dalam ayat mengenai siang dan malam yang membalut antara satu sama lain menyatakan maklumat yang tepat mengenai bentuk dunia. Fenomena ini hanya akan menjadi benar sekiranya bumi adalah berbentuk bulat. Ini bererti bahawa di dalam Al-Qur'an, yang diturunkan di abad ke 7, bentuk sfera bumi telah di disebutkan secara kiasan di dalamnya. Ianya harus diingat, bagaimanapun, bahawa pemahaman mengenai astronomi ketika itu melihat dunia secara berbeza. Ketika itu difikirkan bahawa bumi berbentuk dataran rata dan semua pengiraan saintifk dan penjelasan berdasarkan kepada kepercayaan ini. Ayat Al-Qur'an bagaimanapun telah memuatkan maklumat yang baru diketahui beberapa abad sebelum ini, oleh kerana Al-Qur'an adalah kalam Tuhan, perkataan yang paling tepat digunakan di dalamnya ketika menerangkan mengenai alam smesta.

LANGIT SEBAGAI BUMBUNG PROTEKTIF.
Dalam Al-Qur'an, Tuhan menarik perhatian kita kepada ciri-ciri yang sangat mengagumkan di atas langit; “Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap terpelihara sedang mereka berpaling dari segala tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.” (Surah al-Anbiya; 32) Sifat istimewa langit ini telah dibuktikan melalui kajian saintifik yang dijalankan pada abad ke 20 ini. Ruang atmosefera yang mengelilingi bumi sebenarnya menjalankan fungsi yang sangat penting untuk mengekalkan kehidupan untuk wujud. Ketika memusnahkan meteor-meteor besar dan kecil ketika mendekati bumi, ia menghalangnya dari jatuh ke dalam bumi dan dari membahayakan makhluk hidupan. Sebagai tambahan, atmosfera menapis sinaran yang datang dari luar angkasa yang sangat membahayakan kepada hidupan. Apa yang menariknya, atmosfera menelap sinaran yang berguna dan berfaedah- cahaya nampak, tak nampak dan gelombang radio - untuk menembusinya. Semua jenis radiasi ini adalah sangat penting kepada kehidupan. Cahaya nampak, yang sebahagiannya dibenarkan menembusi dalam atmosfera adalah sangat diperlukan untuk menjalankan proses fotosintesis dalam tumbuhan yang membantu mengekalkan makhluk hidupan. Kebanyakan sinaran ultra violet dengan keamatan tinggi yang dipancarkan oleh matahari di telap keluar oleh lapisan ozon dalam atmosfera dan hanya membataskan -dan yang paling pentingbahagian kecil dalam spektrom ultra violet untuk mencecah permukaan bumi. Fungsi protefktif atmosfera tidak berakhir di sini. Atmosfera juga melindungi bumi dari kesan pembekuan dari luar angkasa, dengan suhu lebih kurang -270 darjah centigrade. Sebenarnya atmosfera tidak bersendirian dalam menjalankan fungsi perlindungan kepada bumi. Sebagai tambahan kepada atmosfera, Jalur Allan Velt, lapisan yang dihasilkan oleh medan magnet bumi, juga berfungsi sebagai perlindungan menentang radiasi yang merbahaya yang mengancam planet kita. Radiasi merbahaya ini, yang secara berterusan dipancarkan oleh matahari dan bintang-bintang lain berpotensi membawa maut kepada makhluk hidupan. Sekiranya Jalur Van Allan tidak wujud, letupan besar-besaran oleh tenaga yang dipanggil nyalaan solar (solar flares) yang kerap terjadi di matahari akan menghancurkan semua kehidupan dalam dunia. Dr Hugh Ross menyatakan hal ini mengenai kepentingan jalur Van Allen kepada kehidupan; Sebenarnya, bumi mempunyai kepadatan paling tinggi berbanding sebarang planet dalam sistem solar kita. Teras besar nikal-besi ini bertanggungjawab untuk medan magnet gergasi kita. Medan magnet ini menghasilkan perisai radiasi Van Allen yang melindungi bumi dari pengeboman radiasi. Sekiranya perisai ini tidak wujud, kehidupan tidak mungkin berada di bumi. Satu-satunya planet berbatu yang mempunyai medan magnet ialah Utarid- tetapi kekuatan medannya 100 kali lebih kecil berbanding medan magnet bumi, bahkan Zuhrah, saudara planet kita, tidak mempunyai sebarang medan magnet. Perisai radiasi Van Allen adalah satu rekaan yang unik kepada bumi. Tenaga yang dipancarkan dari salah satu pembakaran yang dikesan baru-baru ini telah dikira dan dipastikan adalah bersamaan dengan 100 juta kali ganda bom atom yang digugurkan di Hiroshima!!. 58 jam selepas letupan ini, jarum kompas magnetic diperhatikan menunjukkan pergerakan yang luar biasa dan 250 kilometer di atas atmosfera bumi, suhu jatuh mendadak kepada 2500 darjah selsius. Ringkasnya, sebuah sistem yang sempurna sedang bekerja di luar permukaan bumi. Ia mengelilingi dunia kita dan melindunginya dari ancaman luar. Saintis hanya menyedari hal ini beberapa tahun lalu. Tetapi Tuhan telah menerangkan kepada kita dalam Al-Qur'an mengenai atmosfera bumi yang berfungsi sebagai perisai pelindung 14 abad lalu.

PENGITARAN DI ATAS LANGIT.
Ayat ke 11 dalam surah at-Tariq, merujuk kepada fungsi 'pembalikan' langit; “Demi langit yang mempunyai (sistem) pengitaran”.( Surat at-Tariq;11) Perkataan yang ditafsirkan sebagai 'kitaran' dalam penerjemahan Al-Qur'an juga bermaksud 'menghantar balik' atau 'pengembalian'. Seperti yang diketahui, atmosfera yang mengelilingi bumi mengandungi beberapa lapisan. Setiap lapisan memberikan tujuan penting bagi faedah kehidupan. Kajian telah menunjukkan bahawa semua lapisan ini menjalankan fungsi pemantulan material atau sinaran yang bergerak ke arahnya keluar semula ke luar angkasa atau turun kembali ke bumi. Sekarang kita akan meneliiti beberapa contoh fungsi 'pengitaran' yang dimainkan oleh lapisan-lapisan yang mengelilingi ruang langit bumi. Troposfera, setinggi 13 hingga 15 kilometer di atas permukaan bumi membantu mengkondensasikan wap air yang naik ke udara dari permukaan bumi sebagai titisan hujan. Lapisan ozon, pada ketinggian 25 kilometer, memancarkan semula sinaran merbahaya dan cahaya ultra violet yang datang dari luar angkasa kembali ke luar. Lapisan ionosfera memancarkan liputan gelombang radio dari bumi kembali ke bahagian lain dalam bumi, sama seperti komunikasi satelit pasif, yang menyebabkan komunikasi tanpa wayar, radio dan siaran liputan televisyen dapat dilakukan untuk jarak yang lebih jauh. Lapisan magnetosfera pula berfungsi mengembalikan zarah radioaktif merbahaya yang dipancarkan oleh matahari dan bintang-bintang lain kembali semula ke angkasa lepas sebelum sampai ke bumi. Fakta mengenai sifat-sifat lapisan-lapisan atmosfera, yang baru diketahui baru-baru ini telah diumumkan berabad lamanya dalam Al-Qur'an, sekali lagi menunjukan bahawa Al-Qur'an sebenarnya adalah kata-kata Maha Suci Allah.

LAPISAN ATMOSFERA
Satu kenyataan telah disebut di dalam Al-Qur'an bahawa alam semesta ini mempunyai 7 lapisan; “Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak terhadap langit, lalu di jadikanNya 7 lapisan langit. Dan Dia maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surah al-Baqarah; 29) “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. “ (Surah Fusilat; 12) Perkatan 'langit-langit', yang mana banyak di sebut di dalam ayat Al-Qur'an merujuk kepada langit di atas bumi dan merangkumi juga seluruh alam semesta. Makna perkataan tersebut bermaksud langit di bumi ataupun atmosfera yang terdiri daripada 7 lapisan. Kajian kontemporari mendapati bahawa atmosfera dunia terdiri daripada pelbagai lapisan yang saling tindih menindih di antara satu sama lain, tambahan lagi lapisan ini telah digambarkan di dalam Al-Qur'an secara tepat. Berdasarkan kajian saintifik yang telah dijalankan, subjek ini digambarkan seperti berikut; Para saintis telah menemui bahawa atmosfera terdiri daripada beberapa lapisan, lapisan tersebut berbeza dari sudut fizikal berdasarkan tekanan atmosefera dan kandungan gas. Lapisan atmosefera yang paling hampir kepada permukaan bumi di panggil troposfera, yang mengandungi lebih kurang 90% jumlah jisim atmosfera, manakala lapisan di atas troposfera dipanggil stratosfera, kemudian diikuti dengan ozonosfera di mana penyerapan sinaran ultra ungu berlaku, kemudian diikuti dengan mesosfera, dan termosfera yang terdiri dari sebahagian gas ionyang dipanggil ionosfera. Bahagian yang paling luar dipanggil eksosfera yang merentang sejauh 480 km sejauh 960 km. Jika kita perhatikan bilangan lapisan yang tersebut, kita akan mendapati atmosfera sebenarnya mempunyai 7 lapisan persis seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Keajaiban yang penting sekali yang disebut dalam ayat ini 'Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya' di dalam surah Fusilat ayat ke 12. Di dalam perkataan lain, Tuhan telah menyatakan bahawa Dia telah menetapkan setiap tingkat langit itu dengan tugas dan fungsi tertentu. Kebenaran ini telah dilihat di bahagian pertama tadi, setiap lapisan mempunyai peranan penting untuk kebaikan hidupan semua manusia dan hidupan di muka bumi ini. Setiap lapisan mempunyai fungsi yang khusus, bermula dari fungsi pembentukan hujan sehingga kepada perlindungan daripada ancaman radiasi berbahaya, dan dari memancarkan gelombang radio sehingga menghalang ancaman meteor yang memusnahkan. Salah satu dari pelbagai fungsi ini, sebagai contoh, telah dinyatakan dalam sebuah sumber saintifik sebagai berikut; Atmosfera bumi mempunyai 7 lapisan. Lapisan yang paling rendah dipanggil troposfera. Hujan, salji dan angin hanya terjadi di troposfera. Ini adalah satu penemuan fenomena yang menakjubkan, yang tidak dapat diperolehi tanpa kemajuan teknologi abad ke 20 sebagaimana yang telah nyata disebut dalam Al- Qur'an 1400 tahun dahulu.

Sumber:

Keajaiban Al-Quran Di Akui Sains & Fakta Ilmu
http://www.zaharuddin.net/

Rabu, 25 Agustus 2010

Islam Menjunjung Tinggi Akal

Islam Menjungjung Tinggi Akal
W.I Hakim

Dalam kehidupan sehari-hari kita menyebut dan mengakui diri sendiri sebagai manusia religius yang taat pada Tuhan, walaupun terkadang menjalankan aktivitas keagamaan tidak sesuai dengan ajaran agama yang kita anut. Menurut AM Rukky Santoso (2001), Religius dalam pengertian kita adalah spiritual. Kehidupan spiritual kita berjalan seperti sebuah hafalan, memorisasi yang diulang-ulang tanpa makna. Sehingga, tidak heran jika jiwa keagamaan kita, tidak nampak dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sering kita melihat, manusia yang mengaku penganut setia agama justru menjadi buas dan liar, tindakannya berlawanan dengan ajaran agama yang dianutnya. Peristiwa kebuasan dan keliaran manusia, terkadang dipoles oleh tradisi serta lambang keagamaan untuk melegitimasi perbuatan tersebut. Hal ini dapat kita saksikan dengan banyaknya pembantaian manusia dengan penuh kesadisan, nyawa manusia seolah tidak ada artinya apa-apa. Sedangkan para aktivis HAM, aktivis lingkungan, aktivis binatang dsb, diam seribu bahasa. Mereka lebih suka protes jika ada binatang yang dilukai, lingkungan rusak tanpa mempedulikan jiwa manusia. Apakah untuk menghentikan pembantaian manusia ini, harus menunggu para binatang protes pada kita ? Mungkin suatu saat para binatang akan protes sambil membentangkan spanduk yang bertuliskan.

”Tolong jangan bantai manusia, kasihanilah ! Mereka adalah makhluk yang hampir punah perlu dilestarikan”!

Kehidupan moral kita yang semakin rusak, korupsi dimana-mana, kolusi, nepotisme, pergaulan bebas remaja, narkoba, penodongan, penjambretan, pencopetan dan masih banyak lagi kebejatan moral yang dipertontonkan saat ini yang tidak disebutkan. Padahal mesjid ada dimana-mana, mushola tersebar disetiap kantor begitu juga korupsi mengiringi setiap kantor. Atau mungkin sekarang, aktivitas korupsi sudah ada mesjid. Na’udzubillah ! Kondisi seperti ini dapat terjadi karena manusia mengakses agama hanya sebagai sebuah kebiasaan ritual, seremonial dan tanpa pemahaman spiritual yang mendasar dan menyentuh pada esensi agama. Hal ini memerlukan pemikiran lebih dari sekedar membaca dan menghafal dengan bagian otak kiri yang rasional dan logis.
Agama saat ini hanya dijadikan sarana untuk memenuhi label dan kemasan saja, agar orang bersangkutan tampil rapi serta memenuhi syarat sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara.
Akal atau rasio manusia harus dipakai dan digunakan untuk berpikir sehingga mampu melahirkan idea dan gagasan yang konstruktif. Akal inilah yang membedakan manusia dengan tumbuhan dan hewan, serta yang membedakan seorang muslim dan orang kafir juga karena akalnya. Seorang muslim menggunakan akalnya untuk membongkar dan menjelaskan rahasia alam ciptaan Allah SWT, akitivitas ini dijadikan sebagai sarana untuk bertaqwa kepada-Nya. Salah satu kemampuan berpikir manusia adalah kapabilitas menalar, mencipta atau berkreasi, meneliti, menyimpulkan secara deduktif dan induktif. Penggunaan akal untuk berpikir, berkreasi, menganalisis berbagai permaslahan serta mencari solusinya, itulah yang menyebabkan manusia dibebani tugas beribadah serta bertanggungjawab menentukan pilihan dan kehendak dalam aktivitas kehidupan di permukaan bumi.

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS : Al Hujarat 11).

Karena Akal pula yang ada pada diri manusia Allah berkenan mengangkat manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Khalifah disini diartikan sebagai manager, manusia sebagai manager dipermukaan bumi, dengan kekuatan akal pikirannya harus mampu mengelola lingkungan alam ini dengan penuh kebijakan, dengan meminimalkan kerusakan. Al Qur’an menjelaskan pentingnya berpikir bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari di alam dunia ini. Kitab suci terakhir ini, menjunjung tinggi manusia yang berpikir dan sebaliknya, merendahkan orang yang tidak berpikir pada tingkatan dibawah hewan. Firman Allah dalam Al Qur’an:

”Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun”. (QS Al Anfal: 22).

Ayat tersebut mengisyaratkan pada kita betapa pentingnya penggunaan akal pikiran dalam kehidupan manusia sehari-hari serta mencampakan orang yang tidak menggunakan akal pikirannya baik dalam berbagai aktivitas. Akal pikiran harus dimanfaatkan dan dimaksimalkan dalam aktivitas yang positif, memikirkan seluruh ciptaan Tuhan, sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Mengaktifkan akal pikiran akan membuat garis lurus dalam kehidupan yang akan membentengi manusia dari godaan hawa nafsu dan godaan syetan.
Hawa nafsu dan syetan tidak dapat mengalahkan pikiran orang yang beriman kepada Allah, kecuali jika manusia tersebut bersantai. Seperti yang dikatakan oleh Erasmus, “Orang yang malas dan tanpa kesibukan akan menjadi santapan syetan”.

Perubahan terjadi, jika kita sendiri melakukan perubahan.
Ayat Al Qur’an yang terkenal dalam sebuah perubahan manusia adalah; “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak merubahnya”.

Manusia mampu melakukan perubahan, jika ia memiliki niat dan semangat untuk berubah ke arah kemajuan yang positif. Secara psikologi bahwa setiap individu tidak akan mampu mencapai sesuatu tujuan tanpa kesungguhan, tantangan, dan hambatan. Hal ini didasarkan bahwa manusia hidup dalam dunia yang mengharuskan perjuangan dan kesungguhan. Tantangan dan hambatan merupakan tahap awal rintangan yang harus dihadapi manusia untuk mengapai tujuan.
Pada dasarnya manusia, jika dilihat dari tabiat yang dimiliki dan bentuk kejadiannya, manusia diberi bekal kebaikan dan keburukan, serta petunjuk dan kesesatan. Selain bekal yang bersifat fitri dari Allah, terdapat potensi kepekaan dalam diri manusia yang bersifat netral. Manusia yang mendayagunakan potensi tersebut untuk meningkatkan kualitas jiwa, mensucikannya, serta mengembangkan potensi kebaikan dan mengalahkan potensi keburukan, maka ia beruntung, potensi tersebut adalah Qalbu (hati nurani). Sedangkan orang yang memendam, menyesatkan dan melemahkan potensi tersebut, ia sangat merugi Firman Allah:

”Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. ”(QS Asy Syam: 7 – 10)

Sebagai manisfestasi kasih sayang pada manusia, Allah tidak membiarkan bekal fitri dan potensi tersebut dalam bentuk final. Tetapi harus diasah dan dipertajam oleh manusia, untuk menghasilkan kebeningan jiwa dan kecerdasan pikiran. Kehidupan di dunia ini merupakan kesempatan yang diberikan kepada manusia oleh Allah SWT, untuk bekerja dan beramal kebaikan sampai meninggal dunia. Jika ia meninggal dunia maka terputuslah amal ibadahnya kecuali yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

”Jika anak adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu; anak saleh yang mendoakan orang tuanya, sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat” (HR; Muslim).

Sedikit apapun pekerjaan dan amal ibadah seseorang, tidak akan disia-siakan oleh Allah SWT, dengan konsep ini nilai-nilai kemanusiaan akan terealisir pada diri manusia yang didasarkan atas eksistensinya sebagai makhluk utama ciptaan Allah, bertanggungjawab dan independen. Ia diberi kesempatan untuk bekerja, mengumpulkan sebanyak-banyaknya amal ibadah di dunia ini dan memanen hasilnya, maka akan terwujudlah ketentraman bersendikan keadilan.
Allah SWT berfirman; ”Dan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu) ”
Esensi dari ayat tersebut pada hakikatnya mempunyai nilai-nilai ke-Tuhanan dan dampak-dampak bagi proses pembentukan emosi manusia. Ketika manusia merasa bahwa akhir segala sesuatu adalah Allah, maka ia akan menyadari sejak perjalannya tentang akhir dari kehidupannya.
Setiap aktivitas manusia seharusnya didasarkan pada nilai-nilai tersebut, setelah sentuhan hati dengan penuh kelembutan sampai pada akhir perjalanan, maka Allah kembali mengulangi pemulangannya atas kehidupan. Allah memperlihatkan kepada manusia dampak segala kehendak-Nya, dalam setiap periode, kesempatan dan proses yang terjadi. Wallahu’alam.