02 03 04

Kamis, 11 November 2010

JANGAN PUTUS ASA DALAM BERDOA

Janagn Putus Asa dalam Berdoa

“Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang doa-doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu“

Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan kepada kita semua agar kita tidak berputus asa dalam berdoa.Mengapa demikian? Karena nafsu manusia seringkali muncul ketika Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam kondisi demikian manusia seringkali berputus asa, dan merasa bahwa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu disebabkan karena manusia merasa bahwa apa yang dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar memunculkan pengabulan dan Allah.Tanpa disadari bahwa ijabah itu adalah Hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan munajatnya sehingga ia kehilangan hudlur (hadir) bersama Allah.

Dalam ulasannya terhadap wacana di atas, Syekh Zaruq menegaskan, bahwa tipikal manusia dalam konteks berdoa ini ada tiga hal:

Pertama, seseorang menuju kepada Tuhannya dengan kepasrahan total, sehingga ia meraih ridha-Nya. Hamba ini senantiasa bergantung dengan-Nya, baik doa itu dikabulkan seketika maupun ditunda. la tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan dalam waktu yang panjang atau lainnya.

Kedua, seseorang tegak di depan pintu-Nya dengan harapan penuh pada janji-Nya dan memandang aturan-Nya. Hamba ini masih kembali pada dirinya sendiri dengan pandangan yang teledor dan syarat-syarat yang tidak terpenuhi, sehingga mengarah pada keputusasaan dalam satu waktu, namun kadang-kadang penuh harapan optimis. Walaupun hasratnya sangat ringan, toh syariatnya menjadi besar dalam hatinya.

Ketiga, seseorang yang berdiri tegak di pintu Allah namun disertai dengan sejumlah cacat jiwa dan kealpaan, dengan hanya menginginkan keinginannya belaka tanpa mengikuti aturan dan hikmah. Orang ini sangat dekat dengan keputusasaan, kadang-kadang terjebak dalam keragu-raguan, kadang-kadang terlempar dijurang kebimbangan. Semoga Allah mengampuninya.

Syekh Abu Muhammad Abdul Aziz al-Mahdawi mengatakan, “Siapa pun yang tidak menyerahkan pilihannya dengan suka rela kepada Allah Ta'ala, maka orang tersebut terkena istidraj (sanjungan yang terhinakan). Orang tersebut termasuk golongan mereka yang disebut oleh Allah: “Penuhilah kebutuhannya, karena Aku benci mendengarkan keluhannya.” Tetapijika seseorang memasrahkan pada pilihan Allah, bukan pilihan dirinya, maka otomatis doanya telah terkabul, walaupun beium terwujud bentuknya. Sebab amal itu sangat tergantung pada saat akhirnya. “

Wacana di atas dilanjutkan:

“Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehen-daki.”

Seluruh doa hamba pasti dijamin pengabulannya. Sebagaimana dalam firman Allah :
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu. “

Allah menjamin pengabulan itu melalui janji-Nya. Janji itu jelas bersifat mutlak. Hanya saja dalam ayat tersebut Allah tidak menfirmankan dengan kata-kata, “menurut tuntutanmu, atau menurut waktu yang engkau kehendaki, atau menurut kehendakmu itu sendiri.”

Dalam hadits Rasutullah SAW bersabda: “Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini: Kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengka-bulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya.” (HR. Imam Ahmad dan AI-Hakim).

Dalam hadits lain disebutkan, “Doa di antara kalian bakal di ijabahi, sepanjang kalian tidak tergesa-gesa, (sampai akhirnya) seseorang mengatakan, “Aku telah berdoa, tapi tidak diijabahi untukku. “ (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam menafsiri suatu ayat “Telah benar-benar doa kalan berdua di ijabahi” maksudnva baru 40 tahun diijabahi doanya. Menurut Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, perihal firman Allah: “Maka hendaknya kalian berdua istiqamah”, maksudnya adalah “tidak tergesa-gesa”. Sedangkan ayat, “Dan janganlah kalian mengikuti jalannya orang-orang yang tidak mengetahui”, maksudnya adalah orang-orang yang menginginkan agar disegerakan ijabah doanya. Bahwa ijabah doa itu diorientasikan pada pilihan Allah, baik dalam bentuk yang riil ataupun waktunya, semata karena tiga hal:

Pertama, karena kasih sayang dan pertolongan Allah pada hamba-Nya. Sebab Allah Maha Murah, Maha Asih dan Maha Mengetahui. Dzat Yang Maha Murah apabila dimohon oleh orang yang memuliakan-Nya, ia akan diberi sesuatu yang lebih utama menurut Kemahatahuan-Nya. Sementara seorang hamba itu pada dasarnya bodoh terhadap mana yang baik dan yang lebih bermashlahat. Terkadang seorang hamba itu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk baginya, dan terkadang ia membenci sesuatu padahal yang dibenci itu lebih baik baginya. Inilah yang seharusnya difahami pendoa.

Kedua, bahwa sikap tergantung pada pilihan Allah itu merupakan sikap yang bisa mengabadikan hukum-hukum ubudiyah, di samping lebih mengakolikan wilayah rububiyah. Sebab manakala suatu ijabah doa itu tergantung pada selera hamba dengan segala jaminannya, niscaya doa itu sendiri lebih mengatur Allah. Dan hal demikian suatu tindakan yang salah.

Ketiga, doa itu sendiri adalah ubudiyah. Rahasia doa adalah menunjukkan betapa seorang hamba itu serba kekurangan. Kalau saja ijabah doa itu menurut keinginan pendoanya secara mutlak, tentu bentuk serba kurang itu tidak benar. Dengan demikian pula, rahasia taklif (kewajiban ubudiyah) menjadi keliru, padahal arti dari doa adalah adanya rahasia taklij'itu sendiri. Oleh sebab itu, lbnu Athaillah as-Sakandari menyatakan pada wacana selanjutnya:

“Janganlah membuat dirimu ragu pada janji Allah atas tidak terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah, walaupun waktunya benar-benar nyata.”

Maksudnya, kita tidak boleh ragu pada janji Allah. Terkadang Allah memperlihatkan kepada kita akan terjadinya sesuatu yang kita inginkan dan pada waktu yang ditentukan. Namun tiba-tiba tidak muncul buktinya. Kenyataan seperti itu jangan sampai membuat kita ragu-ragu kepada janji Allah itu sendiri. Allah mempunyai maksud tersendiri dibalik semua itu, yaitu melanggengkan rububiyah atas ubudiyah hamba-Nya. Syarat-syarat ijabah atasjanji-Nya, terkadang tidak terpenuhi oleh hamba-Nya. Karena itu Allah pun pernah menjanjikan pertolongan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW dalam perang Uhud dan Ahzab serta memenangkan kota Mekkah. Tetapi Allah menutupi syarat-syarat meraih pertolongan itu, yaitu syarat adanya sikap “merasa hina” di hadapan Allah yang bisa menjadi limpahan pertolongan itu sendiri. Sebab Allah berfirnian dalam At-Taubah: “Allah benar-benar menolongmu pada Perang Badar, ketika kamu sekalian merasa hina “.

Kenapa demikian? Sebab sikap meragukan janji Allah itu bisa mengaburkan pandangan hati kita terhadap karunia Allah sendiri. As-Sakandari meneruskan:

“Agar sikap demikian tidak mengaburkan mata hatimu dan meredupkan cahaya rahasia batinmu”.

Bahwa disebut di sana padanya pengaburan mata hati dan peredupan cahaya rahasia batin, karena sikap skeptis terhadap Allah itu, akan menghilangkan tujuan utama dan keleluasaan pandangan pengetahuan dibalik janji Allah itu.

Rabu, 10 November 2010

Nasehat Imam Al Ghozali



Nasehat Imam Al Ghozali

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A'Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Iimam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat. Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukaiperasaan saudaranya sendiri.


Selasa, 09 November 2010

Citra spektakuler dari NASA melihat leleran Merapi


Citra spektakuler dari NASA melihat leleran Merapi
By Rovicky

Sebuah citra yang sangat spektakuler dirilis oleh NASA. Image yang dibuat oleh NASA ini merupakan sebuah citra satelit yang seringkali dipakai untuk melihat tingkat panas sebuah objek. Citra yang diambil pada tanggal 1 November ini dirilis pada tanggal 5 November 2010.
Citra ini merupakan gambaran bagaimana arah luncuran aliran Pyroclastic dari Merapi yang terlihat mengarah ke Selatan.
Citra ini tentusaja sangat membantu karena dengan sensor panas inilah kita mampu melihat kearah mana luncuran aliran piroklastik dari Merapi.
Arah luncuran piroklasktiknya ke arah Selatan

Arahnya ke Selatan   

Dengan citra ini tentusaja tiodak dapat dipungkiri lagi bahwa arah selatan merupakan arah bahaya utama merapi seperti yang sudah sering disampaikan oleh Pak Surono dari PVMBG bahwa  arah Sungai Gendol merupakan arah yang berbahaya dan sangat berpotensi terkena lahar dingin.
Arah luncuran ke selatan menuju Sungai Gendol (merah jambu). Namun Sungai Code (Merah) disebelah baratnya juga berbahaya karena curah hujan tinggi di puncak.
Overlay dengan menggunakan GoogleMap diatas mudah untuk dimengerti mengapa Sungai Gendol (merah jambu) dan Sungai Code (Merah) merupakan dua sungai yang harus diperhatikan dan waspada terhadap banjir lahar dingin.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melaporkan bahwa dua aliran piroklastik bergerak turun gunung berapi pada 30 Oktober. Aliran piroklastik adalah avalanche gas sangat panas, abu, dan batuan yang mengalir menyusuri salah satu sisi gunung berapi dengan kecepatan tinggi. ASTER ini hanya menggambarkan atau mencitrakan salah satu dari arus aliran awanpanas.
Letusan Merapi ini belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Setelah beberapa hari episode erupsi, gunung berapi mulai letusan pada 3 November yang lima kali lebih kuat dari pada tanggal 26 Oktober dan berlangsung lebih dari 24 jam. Ini adalah letusan paling besar dari gunung Merapi sejak 1870-an.


Jarak luncurannya melebihi 7.5 Km dari Puncak Merapi. Panjang luncurannya sekitar 5 Km.

Gambar diatas memperlihatkan Gunung Merapi telah diliputi awan selama terjadi letusan, tetapi pada 30 Oktober Advanced Spaceborne Emisi Termal and Refleksi Radiometer (ASTER) di satelit Terra NASA menangkap tanda termal abu panas dan batu dan kubah lava pijar. Data termal di-overlay pada peta tiga dimensi gunung berapi untuk menunjukkan lokasi perkiraan aliran. Data tiga dimensi dari model topografi global dibuat dengan menggunakan pengamatan stereo ASTER.
Sumber : NASA

Jumat, 05 November 2010

ADAKAH JAGAT LAIN ?


Adakah Jagat Lain?
Dr. Mohamad Daudah
Dr. Husni Hamdan Hamamah

Allah berfirman, ‘Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam. Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan di bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (al-Jatsiyah: 36-37)

Para ahli tafsir memiliki banyak pendapat tentang kata ‘alamin yang menunjukkan luasnya pemahaman mereka. Jagat kita (universe) yang kita lihat sangat luas itu merupakan tingkatan yang jarak setengah diameternya adalah 30 miliar perjalanan cahaya. Dengan arti bahwa seandainya kita memulai perjalanan dari titik terjauh yang satu dengan kecepatan 300 ribu km/detik, dan itu adalah kecepatan kosmik terbesar, maka kita membutuhkan 30 milyar tahun untuk sampai ke titik terjauh di sisi lain dari alam semesta ini.
Para ahli astrofisika bertanya-tanya, adakah dunia selain dunia yang kita lihat ini, dan bagaimana dimensi-dimensinya jika ia ada. Kita memang tidak melihatnya, tetapi barangkali ia ada karena kita tidak melihat setiap yang ada. Allah berfirman, ‘Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia.’ (al-Haqqah: 38-40)
Para ahli astrofisika menyatakan bahwa dunia kita barangkali hanya seperti balon yang mengapung di angkasa yang sempurna dimensi-dimensinya.

Apa kata ahli tafsir?
Al-Qurthubi: Para ahli takwil berbeda pendapat mengenai kata ‘alamin. Menurut Qatadah, kata ‘alamin adalah jamak dari kata ‘alam, yaitu setiap maujud selain Allah. Kata ini tidak memiliki arti tunggal, sama seperti kata rahthun (kelompok) dan qaum (golongan). Husain bin Fadhal mengatakan penghuni setiap zaman itu disebut ‘alam. Dan lain-lain.
Wahb bin Munabbih berkata, ‘Sesungguhnya Allah memiliki delapan belas ribu jagat, dan dunia hanyalah satu jagat dari sekian banyak jagat tersebut.’
Abu Sa‘id al-Khudri berkata, ‘Sesungguhnya Allah memiliki empat puluh ribu jagat, dan dunia dari timur hingga barat adalah satu jagat.’
Muqatil berkata, ‘Jumlah jagat adalah delapan puluh ribu. Empat puluh ribu jagat di antaranya ada di dalam air, dan empat puluh ribu di antaranya ada di darat.’
Menurut al-Qurthubi, pendapat yang pertama adalah yang paling mendekati kebenaran, karena ia mencakup setiap makhluk dan eksisten. Dalilnya adalah firman Allah, ‘Firaun bertanya, ‘Siapa Tuhan semesta jagat itu?’ Musa menjawab, ‘Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya.’’ (asy-Syu’ara: 23-24) Kata ‘alamin di dalam al-Qur’an sebanyak 60 kali, dan salah satunya mengisyaratkan langit dan bumi.
Di kalangan para ilmuwan hari ini muncul banyak pertanyaan yang membingungkan seputar keberadaan jagat lain di tengah ciptaan yang mahabesar ini. Inti pertanyaan tersebut adalah: apakah ada jagat-alam lain dengan hukum yang berbeda dari hukum yang mengatur jagat kita, dimana cahanya melesat lebih cepat, dan dimana daya gravitasi lebih kuat daripada yang kita kenal?
Banyak ilmuwan meyakini keberadaan jagat lain selain jagat kita. Di antara mereka adalah Max Tugmart, John G. Cramer, Susan Wealze and David Hoytawes. Salah satu model yang diprediksi keberadaannya oleh para ilmuwan adalah kembaran galaksi kita, yang jaraknya dari kita adalah 1028 meter dari kita.  Max Tugmart berpandangan bahwa jagat paralel (parallel universe) bukan sekedar fiksi ilmiah. Bahkan, dunia lain itu tidak lain adalah implementasi langsung dari kajian-kajian kosmologi.

Malkuth antara al-Qur’an dan Sain:
Sangat mengherankan bahwa kata malakut yang disebut beberapa kali di dalam al-Qur’an itu digunakan para ilmuan. Mari kita cermati apa yang ditulus John G. Cramer,
‘Gene Wolf menduga bahwa yang disebut dunia ini bukan merupakan satu-satunya jagat, melainkan seperti satu dunia di luar perjalanan waktu. Kita akan membutuhkan kata lain, dan saya mengusulkan kata malkut yang dalam bahasa Kabalist yang berarti jagat. Tetapi, menurutku kata tersebut bukan kata baru, dan sepertinya kasar.’
Seandainya Gene Wolf tahu bahwa kata malkut atau malakut itu adalah kata asli Arab dan disebut di dalam al-Qur’an al-Karim, maka ia pasti tidak menyebutnya ‘kasar’. Allah berfirman, ‘Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan (malakut) langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada Al Qur'an itu?’ (al-A’raf: 185)
Suzanne Willis menyebutkan bahwa jagat-jagat yang paralel itu dimungkinkan terpisah sesuai teori-teori yang terpisah dengan dua jalan. Jalan pertama pada fase huge inflation of the universe (pemekaran besar dunia), dimana satu bagiannya yang kecil berkembang menjadi besar, dan sesudah itu jadilah dunia yang kita kenal saat ini. Dan dimungkinkan bagian-bagian yang lain menempuh jalan yang sama, berkembang, dan membentuk dunia-dunia lain. Sedangkan jalan kedua dan sesuai teori kuantum, dunia-dunia paralel itu berjalinan akibat Quantum Event.

Max Tugmark meneliti teori-teori fisika yang berkaitan dengan jagat-jagat paralel, yang tersusun dalam empat tingkatan jagat, yang memukinkan adanya variasi yang berkelanjutan.
1.      Tingkatan pertama adalah jagat-jagat raya yang tidak diatur dengan fisika dan konstanitas fisika jagat kita, tetapi bisa jadi perkembangan Artikelnya berbeda.
2.      Tingkatan kedua adalah jagat-jagat yang konstanitas-kontanitas fisikanya dan dimensi-dimensi ruang dan waktunya berbeda dari yang ada di jagat kita.
3.      Tingkatan ketiga, setiap kuantum dimungkinkan memunculkan banyak salinan.
4.      Tingkatan keempat memiliki hukum-hukum fisika yang berbeda.

Senin, 01 November 2010

BERCERMIN PADA DIRI


Bercermin Pada Diri

W. Ihwanul. Hakim

Buruk rupa, cermin dibelah ?
Pepatah di atas tidak usah dipraktekan karena akan mengakibatkan banyaknya pecahan kaca yang berserakan, merugikan para pemulung karena mereka akan terluka kena pecahan kaca, menyusahkan  cleaning service, tukang sampah dan juga merepotkan setiap orang yang berjalan kaki, namun demikian menguntungkan pedagang cermin karena laris terjual.  Cermin merupakan benda yang pernah dipakai hampir oleh setiap manusia,  terutama mereka yang dapat melihat dengan mata normal ketika mereka melihat dirinya sendiri. Cermin tidak pernah bohong, mengungkap apa adanya, tidak pernah pilih kasih pada siapapun yang bercermin, kecuali mengungkapkan cerminan yang sesungguhnya. Namun terkadang manusia justru bercermin ingin menyembunyikan sesuatu yang kelihatan kurang bagus atau ingin mengurangi kejelekan yang terlihat di cermin. Ilustrasi di atas menggambarkan prilaku fisik, untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan di depan cermin, sehingga dibuat sedemikian rupa untuk menutupi kekurangan agar lebih percaya diri. Bagaimana dengan “cermin” amal perbuatan kita ? apakah kita sudah mengetahui kelebihan dan kekurangan amal perbuata kita ? sudahkan kita berusaha meningkatkan amal kebaikan untuk menutupi kekurangan yang kita lakukan ? “cermin’ amal kebaikan memang tidak pernah dijual dan diperdagangkan tetapi ada pada hati sanubari setiap insan, hanya mereka yang selalu mendekatkan diri kepada Alloh Swt, menjaga diri dari kemaksiatan dan perbuatan dosa. Mereka adalah orang yang selalu “bercermin” terhadap perbuatan yang dilakukannya, mereka sangat meyakini bahwa Alloh Swt Maha melihat, selalu mengawasi gerak-geriknya. Apapun yang dilakukannya akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, tidak heran jika mereka menjadikan “cermin” amal sebagai upaya untuk melihat sisi jelek dari dirinya, mengakui bahwa dirinya memiliki kekurangan dalam berbuat kebaikan, tidak pernah merasa lebih baik dan tidak pernah merasa paling tahu, serta tidak pernah merasa paling suci dan paling dekat dengan Alloh Swt. Hal ini selalu disadarinya sebagai hamba yang memiliki keterbatasan dalam totalitas pengabdian kepada Alloh Swt. Penggunaan akal dan nurani (qalbu) dalam “bercermin” diri merupakan keharusan untuk melihat objektivitas tentang diri kita. Bercermin diri seperti ini dilakukan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Alloh Swt, agar menjadi orang yang selalu mensucikan diri dan mendekatkan diri kepada Alloh Swt dalam kondisi apapun. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan diri (dengan beriman), Dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia Sholat (sembahyang) (Al-A’laa: 14 - 15).
Dalam ayat lain Alloh Swt mengilhamkan kepada diri manusia dengan kebejatan dan ketaqwaan sebagai cerminan diri manusia. Kebejatan mencakup seluruh aspek yang negatif sedangkan ketaqwaan menjaga manusia dari kebejatan. Ketaqwaan kepada Alloh Swt bisa dipelihara dan ditingkatkan dengan cara mensucikan jiwa (qalbu), sehingga kebejatan dapat dihilangkan dari jiwa manusia, tetapi  sebaliknya mengotori jiwa menjadikan kebejatan bertambah subur dan menipiskan ketaqwaan. Hal ini sesuai dengan firman Alloh Swt.
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (Asy-Syam: 7 – 10).
 Kita mungkin kurang beradab memanjatkan doa, memohon dan mengadu kepada Alloh Swt, tanpa pernah “bercermin” terhadap amal yang pernah kita lakukan ? tidakkah kita malu memohon kebaikan kepada Alloh Swt, padahal kita belum dekat dengan Alloh Swt, perbuatan kita terlalu naif dan munafiq, selalu ngomongin orang, iri terhadap apa yang didapatkan orang, dengki terhadap keberhasilan orang, dendam ketika perasaan tersinggung, tidak senang ketika aktivitas kebaikan didahului orang, tidak rela ketika ada yang mengkritik, tidak suka ketika orang mengajak pada  kebaikan karena merasa sudah “pintar”.  Tulisan ini tidak dimaksudkan bahwa berdoa itu percuma atau kita tidak boleh bordoa, tetapi lebih melihat dari sisi objektivitas bahwa apa yang kita lakukan masih jauh dari tuntunan Islam yang di bawa Nabi Muhammad Saw. Kita terlalu lalai dalam mengingat Alloh Swt, padahal Alloh Swt menyuruh untuk mengingat-Nya, sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an.
 “Dan sebutlah nama Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al-A’raaf: 205).
Sudahkah kita “bercermin” terhadap keislaman kita ? apakah prilaku sehari-hari kita sudah sesuai dengan tuntunan Islam ? Di zaman modern seperti sekarang ini, Islam ada di mana-mana, di warung kopi orang membicarakan Islam, di bus kota Islam ada, di mimbar Islam ada, bahkan di rapat Islam ada,  tetapi Islamkah kita ? Pernahkah kita mempertanyakan bahwa sholat, puasa dan zakat yang kita lakukan itu ikhlas atau tidak ? tidak pantas rasanya kita mengharap syorga, sedangkan hidup kita masih jauh dari tuntunan agama Islam, hanya sebatas “pemanis bibir” dan tertera di KTP. Ahli tasawuf, Abu Nawas, ketika berdoa tidak pernah meminta syurga, tetapi selalu meminta keridhoan Alloh Swt.
“Ya Alloh Hamba tidak pantas menghuni syurga-Mu tetapi hamba tidak akan kuat menahan siksa neraka-Mu, ampunkanlah dosa hamba”.
Seorang muslim yang menggunakan akal dan nuraninya, akan cepat menyadari bahwa mendekatkan diri pada Alloh Swt dan mencari cara untuk selalu dekat dengan Alloh Swt merupakan suatu keharusan sebagai bukti pengabdian hamba kepada khaliq-Nya.

Perbanyak memperbaiki diri
Bercermin pada diri sendiri atau introsfeksi diri dari kekurangan dan kesalahan yang kita buat bukanlah suatu hal yang susah untuk diucapkan tetapi hal yang tidak mudah untuk dilakukan, namum kita paling mudah dan terbiasa untuk menunjuk dan menyalahkan orang lain. Hal ini dikarenakan tidak banyak yang menyadari kesalahan, kekeliruan dan kekurangan yang dilakukannya selama ini, bahkan mungkin karena sudah terbiasa melakukan kesalahan, hal itu dianggap benar dan biasa. Sebagai seorang manusia yang memiliki banyak sisi kelemahan sepatutnyalah banyak melihat sisi buruk dan jelek pribadi kita, sehingga ada upaya untuk terus memperbaiki, menambah, dan mengembangkan diri agar menjadi lebih baik dalam segala hal. Supaya kita tidak terjebak oleh nafsu yang menyesatkan manusia, untuk mempercayai bahwa sesuatu yang buruk atau negatif nampak seperti sungguh-sungguh suatu kebaikan. Kita jadikan bercermin diri sebagai kebutuhan untuk evaluasi diri, memperbaiki diri, dan mengembangkan diri serta meningkatkan potensi positif diri kita. Agar kita menjadi umat yang memiliki kualitas akhlak dan intelektual tinggi di atas umat yang lain. 
Perlu kita sadari bahwa rata-rata usia manusia untuk menghuni dunia tidaklah lama, tidak akan mungkin sampai seribu tahun. Kapan lagi kita akan mulai berbuat kebaikan jika tidak kita mulai dari sekarang, ataukah kita akan menunggu sampai usia lanjut. Mungkin kita perlu mengingat pantun di seperti ini.
“Kelapa muda kupas-kupasin, kelapa tua tinggal batoknya
massa muda puas-puasin, masa tua tinggal bongkoknya”
 Apakah ada jaminan dari Alloh Swt usia kita sampai tua ? Pernahkah kita mengkalkulasikan berapa banyak amal kebaikan yang kita kerjakan ? lalu berapa banyak pula perbuatan tercela yang kita lakukan ? kemungkinan besar jawabannya adalah amal kebaikan kita lebih banyak, karena kita merasa telah banyak berbuat amal, talah berjasa dan telah lama menghuni dunia. Memang, Hanya Alloh Swt yang Mahatahu ! tetapi tidak salah seandainya kita mengkalkulasikan amal baik dan buruk yang kita lakukan, agar kita menyadari bahwa untuk mendapat keridhoan Alloh Swt, tidak mudah tetapi perlu memperbanyak amal kebaikan serta menghilangkan perbuatan tercela, agar kita tidak terjerumus kedalam kehancuran dunia akhirat
Manusia  bisa terjerumus oleh dua sebab yaitu keserakahan dan kesombongannya. Bukankah Nabi Adam As diusir oleh Alloh Swt karena keserakahannya ketika ingin menikmati buah khuldi yang dilarang oleh Alloh Swt, padahal sudah disediakan aneka macam makanan yang halal. Begitu juga dengan syetan diusir oleh Alloh Swt karena kesombongannya tidak mau mengakui eksistensi manusia sebagai makhluk yang sempurna ciptaan Alloh Swt, tetapi syetan merasa dirinya makhluk yang lebih tinggi derajatnya karena diciptakan dari api, sedangkan manusia dari tanah.
Sudah saatnya kita pererat tali persaudaraan kita, saling nasihat-menasihati dalam kebenaran, tingkatkan amal kebaikan kita, perbanyak mengingat kematian agar hati kita luluh melihat kefanaan, perbanyak dzikir agar hati bersih terjaga dari sifat iri, dengki, dendam dan perbuatan jahat lainnya.
Tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik dan menegakan kebenaran. Ingat,  Alloh Maha melihat apa yang kita lakukan ! Akhirnya kami ingin mengutip pepatah Arab, yang berbunyi:
“Janganlah anda merasa kecewa jika tidak mengerti 
tetapi bersedihlah karena tidak belajar”.
Sumber:
Al Qur'an
Disarikan dari berbagai sumber