02 03 04

Senin, 19 September 2011

Struktur Geologi

Struktur Geologi


Bentuk-bentuk geometri yang terdapat pada kulit bumi yang terbentuk oleh pengaruh gaya-gaya endogen, baik berupa tekanan maupun tarikan. Para ahli geologi menyebutnya Struktur Geologi, dan dikenal dengan Kekar , Sesar , serta Lipatan .
Kekar (Joint) adalah rekahan/patahan pada lapisan batuan yang terjadi akibat pengaruh gaya-gaya endogen baik tekanan maupun tarikan, tanpa mengalami perpindahan tempat.

JENIS KEKAR

  • Kekar Gerus (Shear Joint) adalah Kekar pada batuan yang terjadi akibat tekanan
  • Kekar Tarik (Tension Joint) adalah Kekar pada batuan yang terjadi akibat tarikan

Sesar (Faults) adalah rekahan/patahan pada lapisan batuan yang terjadi akibat pengaruh gaya-gaya endogen baik tekanan maupun tarikan dan mengalami perpindahan tempat/dislokasi/pergeseran.
JENIS SESAR
  • Sesar Normal / Turun (Normal / Gravity Fault)
  • Sesar Naik (Reverse / Thrust Fault)
  • Sesar Mendatar / Geser (Horizontal / Strike-Slip Fault)
  • Sembul (Horst)
  • Terban (Graben)
Lipatan (Folds) adalah struktur lapisan batuan sedimen berbentuk lipatan/ gelombang/ lengkungan yang terbentuk akibat gaya endogen berupa tekanan.

JENIS LIPATAN
  • Lipatan Tegak/Setangkup (Upright Fold / Symmetrical Fold)
  • Lipatan Tidak Setangkup (Asymmetrical Fold)
  • Lipatan Miring / Menggantung (Inclined Fold / Overturned Fold)
  • Lipatan Rebah (Recumbent Fold)
  • Antiklin (Anticline)
  • Sinklin (Syncline) 
  •  
sumber; http://museum.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=32&Itemid=28

Kamis, 08 September 2011

BULAN SIDERIS DAN SINODIS

BULAN SIDERIS DAN SINODIS
Oleh : Akhmad Syaikhu
Pencinta Kajian Falak dan Astronomi

Bulan mengelilingi bumi dalam satu periode putaran (360 °) memerlukan waktu 27,3 hari bumi tepatnya 27,321661 hari atau 27 hari 7 jam 43 menit 11.51 detik. Jika pada suatu waktu bulan berada pada titik yang searah dengan bintang tetap tertentu di langit, maka setelah  27 hari 7 jam 43 menit 11.51 detik ia akan kembali berada di tempat semula. Jangka waktu ini disebut waktu peredaran sideris bulan.
Ketika bulan beredar menempuh lingkaran orbitnya, bumi dan bulan juga bersama-sama mengelilingi matahari. Akibatnya setelah 27, 3 hari itu meskipun  bulan sudah sempurna mengelilingi bumi (360°), namun pada waktu itu belum masuk pada bulan baru. Bulan baru itu terjadi bila bulan terletak kembali searah dengan matahari (konjungsi) atau dengan istilah lain: bumi bulan dan matahari terletak pada suatu garis  lurus.
Perhitungan kalender bulan seperti kalender Hijriyah tidaklah terlalu sederhana, perhitungannya tidaklah didasarkan pada peredarannya itu sendiri, tetapi kepada perubahan bentuknya. Sementara perubahan bentuk bulan sendiri ditentukan oleh posisi matahari.
Lihat ilustrasi berikut :
Gambar 2. Ilustrasi Peredaran Sideris dan Sinodis Bulan. Setelah 27, 32 hari bulan sempurna mengelilingi bumi 360°, bulan baru (new moon) belum bisa terjadi. Masih perlu diperlukan 2.21 hari lagi (27° derajat) pergeseran bulan agar terjadi konjungsi yang menandai akan masuknya bulan baru. Lihat gambar di atas: Posisi B1 dan B3 adalah periode sinodis bulan, sedangkan B1 ke B2 adalah periode sideris

Untuk menyelesaikan satu putaran penuh, misalnya dari satu purnama ke purnama berikutnya waktu 27,321661 hari belumlah cukup. Bulan masih harus menempuh 27° lagi, karena perubahan bentuk bulan terjadi akibat pantulan sinar matahari berdasarkan penglihatan dari bumi. Dengan kata lain untuk mencapai satu keliling penuh menurut perubahan bentuknya bulan harus menempuh jarak 387°, jarak itu ditempuh bulan dalam waktu 29, 530579 hari atau 29 hari 12 jam 44 menit 2.03 detik. Selanjutnya untuk lebih jelas anda dapat melihat animasi peredaran sideris dan sinodis bulan berikut:

The Sidereal and Synodic Months
The sidereal month is the time the Moon takes to complete one full revolution around the Earth with respect to the background stars. However, because the Earth is constantly moving along its orbit about the Sun, the Moon must travel slightly more than 360° to get from one new moon to the next. Thus, the synodic month, or lunar month, is longer than the sidereal month. A sidereal month lasts 27.322 days, while a synodic month lasts 29.531 days.

Karena panjang hari sesuai dengan pusingan bumi pada porosnya dalam satu putaran penuh adalah 24, maka untuk mencapai waktu rata-rata 29, 530579 hari, ditetapkan panjang bulan pada bulan-bulan Hijriyah adalah silih berganti antara 29 dan 30 hari. Dengan panjang rata-rata 29.5 hari itu ternyata masih ada selisih 0.030579 hari (0 jam 44 menit 2.03 detik), maka untuk menutupi kekurangan itu diadakan penambahan satu hari pada bulan terakhir yaitu Dzulhijjah setiap 11 tahun sekali dalam putaran tiap 30 tahun. Dengan penambahan ini berarti rata-rata bulan panjangnya menjadi 29,5305 hari. Suatu angka yang cukup tepat meskipun masih terdapat kekurangan sekitar delapan detik tidaklah berpengaruh, oleh karena itu dapat di abaikan.

SOURCE: Freedman and Kaufmann, Universe, Seventh Edition, published by W. H. Freeman & Co. © 2004 W. H. Freeman & Co., and Sumanas, Inc.

Rabu, 07 September 2011

What Made the 2004 Sumatra Earthquake the Deadliest in History?

What Made the 2004 Sumatra Earthquake the Deadliest in History?

Sediments in the Sunda Trench altered earthquake mechanics

Republished from a June, 2011 press release by the University of Texas at Austin.

The Answser is in a Layer of Sediments

An international team of geoscientists has discovered an unusual geological formation that helps explain how an undersea earthquake off the coast of Sumatra in December 2004 spawned the deadliest tsunami in recorded history.

Instead of the usual weak, loose sediments typically found above the type of geologic fault that caused the earthquake, the team found a thick plateau of hard, compacted sediments. Once the fault snapped, the rupture was able to spread from tens of kilometers below the seafloor to just a few kilometers below the seafloor, much farther than weak sediments would have permitted. The extra distance allowed it to move a larger column of seawater above it, unleashing much larger tsunami waves.
At a typical subduction zone, the fault ruptures primarily along the boundary between the two tectonic plates and dissipates in weak sediments (a), or ruptures along "splay faults" (b); in either case, stopping far short of the trench. In the area of the 2004 Sumatra earthquake, sediments are thicker and stronger, extending the rupture closer to the trench for a larger earthquake and, due to deeper water, a much larger tsunami. Image by: University of Texas at Austin.

Thick Sediments Might Signal Greater Hazard

"The results suggest we should be concerned about locations with large thicknesses of sediments in the trench, especially those which have built marginal plateaus," said Sean Gulick, research scientist at The University of Texas at Austin's Institute for Geophysics. "These may promote more seaward rupture during great earthquakes and a more significant tsunami."

The team's results appear this week in an article lead-authored by Gulick in an advance online publication of the journal Nature Geoscience.

Visualizing Subsurface Structures

The team from The University of Texas at Austin, The University of Southampton in the United Kingdom, The Agency for the Assessment and Application of Technology in Indonesia and The Indonesia Institute for Sciences used seismic instruments, which emit sound waves, to visualize subsurface structures.


Events of December 26th, 2004

Early in the morning of Dec. 26, 2004, a powerful undersea earthquake started off the west coast of Sumatra, Indonesia. The resulting tsunami caused devastation along the coastlines bordering the Indian Ocean with tsunami waves up to 30 meters (100 feet) high inundating coastal communities. With very little warning of impending disaster, more than 230,000 people died and millions became homeless.


A Fault on the Indo-Australian - Sunda Boundary

The earthquake struck along a fault where the Indo-Australian plate is being pushed beneath the Sunda plate to the east. This is known as a subduction zone and in this case the plates meet at the Sunda Trench, around 300 kilometers west of Sumatra. The Indo-Australian plate normally moves slowly under the Sunda plate, but when the rupture occurred, it violently surged forward.


Sediments of the Sunda Trench 

The Sunda Trench is full of ancient sediment, some of which has washed out of the Ganges over millions of years forming a massive accumulation of sedimentary rock called the Nicobar Fan. As the Indo-Australian plate is subducted, these sediments are scraped off to form what's called an accretionary prism. Usually an accretionary prism slopes consistently away from the trench, but here the seabed shallows steeply before flattening out, forming a plateau. 


Mechanics of Subduction Zone Earthquakes

Subduction earthquakes are thought to start tens of kilometers beneath the Earth's surface. Displacement or "slip" on the fault, as geologists call it, propagates upwards and generally dissipates as it reaches weaker rocks closer to the surface. If it were an ordinary seismic zone, the sediment in the Sunda Trench should have slowed the upward and westward journey of the 2004 earthquake, generating a tsunami in the shallower water on the landward (east) side of the trench.

But in fact the fault slip seems to have reached close to the trench, lifting large sections of the seabed in deeper water and producing a much larger tsunami.

This latest report extends work published last year in the journal Science that found a number of unusual features at the rupture zone of the 2004 earthquake such as the seabed topography, how the sediments are deformed and the locations of small earthquakes (aftershocks) following the main earthquake. The researchers also reported then that the fault zone was a much lower density zone than surrounding sediments, perhaps reducing friction and allowing a larger slip.


Funding and Publication

Funding for the research was provided by the U.S. National Science Foundation (NSF) and the UK Natural Environment Research Council.

A copy of the paper, "Updip rupture of the 2004 Sumatra earthquake extended by thick indurated sediments," is available online.

Source: http://geology.com/press-release/sumatra-earthquake-sediments/

Apa Yang Dimaksud Berpikir dan Berjiwa Besar?

Apa Yang Dimaksud Berpikir
dan Berjiwa Besar?

Berpikir Besar
Apa yang dimaksud berpikir besar? Kenapa harus peduli dan apa dampaknya dalam kehidupan kita?
Berpikir adalah dasar tindakan Anda. Disadari atau tidak, Anda bertindak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran Anda. Nah dari sinilah, jika Anda memiliki pikiran besar atau berpikir besar, maka Anda akan melakukan tindakan yang besar dan tentu saja akan mendatangkan hasil yang lebih besar pula.
Yang dimaksud dengan besar disini, bukan hanya besar dalam kuantitas saja tetapi juga besar dalam hal kualitas. Keberanian, kecerdasan, kejelian, dan kepekaan terhadap peluang adalah ciri dari kualitas berpikir seseorang. Belum disebut bertindak besar jika hanya kerja keras dengan hasil yang kecil.
Halangan dan rintangan ibarat sebuah batu yang ada di depan kita. Sementara pikiran ibarat kendaraan yang akan melalui batu tersebut. Jika kendaraan jauh lebih besar dibandingkan batu yang ada, maka kendaraan tersebut akan lebih mudah melalui batu tersebut. Namun, jika kendaraannya kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan dengan batu yang ada di hadapannya, maka akan sulit untuk melangkah.
Itulah analogi bagaimana peran berpikir besar dalam kehidupan Anda. Seberapa besar pikiran Anda bisa dilihat dari seberapa besar keberanian Anda dalam menghadapi halangan dan rintangan yang didalamnya termasuk masalah dan resiko. Jika Anda mudah ciut menghadapinya, artinya Anda masih berpikir sempit.

Berjiwa Besar
Lalu Apa yang disebut dengan berjiwa besar? Analoginya hampir sama, hanya saja ada dalam jiwa Anda yang berkaitan dengan mental dan emosi Anda. Jika berpikir besar lebih fokus pada masalah logika dan fisik, maka berjiwa besar berkaitan dengan masalah mental dan emosi.
Takut, khawatir, merasa sesak di dada (arti kiasan), pengecut, memilih yang aman, memilih yang pasti, dan rendah diri adalah ciri dari seseorang yang masih memiliki jiwa yang sempit.
Berpikir besar sudah dibahas, berjiwa besar sudah dibahas, masih ada satu kata yang belum dibahas dari kalimat Berpikir dan Berjiwa Besar, yaitu:

Makna Kata DAN
Mana yang lebih penting? Jawabannya adalah keduanya karena sangat berkaitan dan saling tergantung. Untuk itulah saya memilih kata DAN, dalam menulis “Berpikir Dan Berjiwa Besar”, yang artinya keduanya harus ada, tidak bisa memilih salah satu saja.
Kadang, ada orang yang secara intelektual memiliki kemampuan. Memiliki potensi yang besar dalam hal ilmu dan keterampilan, namun karena jiwanya sempit, tetap saja akan terhambat. Banyak juga orang yang memiliki mental berani, tetapi dia berhenti seketika saat menghadapi rintangan yang besar karena tidak terpikirkan bagaimana cara melaluinya. Keduanya penting, keduanya perlu, makanya kita menyebutkan berpikir dan berjiwa besar, bukan berpikir atau berjiwa besar.

Agar Bisa Berpikir dan Berjiwa Besar
Bahan Yang Diperlukan Agar Berpikir dan Berjiwa Besar
Jika pikiran dan jiwa diibaratkan tubuh, supaya bisa menjadi besar maka kita harus memiliki bahan (nutrisi) yang cukup untuk membangunnya. Anda tidak akan pernah bertubuh besar jika tidak memiliki asupan giji yang cukup.
Kabar baiknya, bahan itu sudah ada tinggal mencarinya. Begitu juga potensi dalam diri Anda pun sudah memadai untuk mengolahnya, yaitu akal dan hati serta tubuh Anda yang merupakan potensi yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Bahan itu sudah ada, maka Anda tinggal menggunakan bahan yang ada. Artinya Anda perlu ilmu agar bisa membangkitkan potensi dalam diri Anda.
Maka langkah-langkahnya agar memiliki pikiran dan berjiwa besar adalah
  1. Memahami dan meyakini bahwa Anda memiliki potensi yang cukup untuk membangun pikiran dan jiwa sebesar apa pun.
  2. Memiliki ilmu dan keterampilan bagaimana menggunakan pikiran untuk menghasilkan ide yang disebut dengan kreativitas.
  3. Memiliki ilmu dan keterampilan untuk memanfaatkan potensi-potensi yang ada.
Dan ternyata, bisa Anda lihat bahwa ketiga langkah diatas bertumpu pada belajar atau menuntut ilmu.

Melatih Pikiran dan Jiwa
Anda tidak akan langsung berpikir dan berjiwa besar sesaat setelah membaca artikel ini. Ibaratnya sama dengan tubuh, meski Anda sudah memakan makanan protein tinggi, Anda tidak akan langsung memiliki tubuh besar dan kuat. Ya, Anda peru melatihnya.
Jika tubuh dilatih dengan beban, maka pikiran dan jiwa pun sama. Artinya Anda harus melatih diri menghadapi beban pikiran dan jiwa agar bisa berpikir dan berjiwa besar. Sama dengan melatih tubuh, Anda perlu melakukannya secara bertahap.
  1. Anda bisa mulai melatih berpikir dan berjiwa besar dalam imajinasi terlebih dahulu. Melamun? Ya, sedikit mirip, tapi bukan melamun yang tidak-tidak. Bukan juga berangan-angan, namun melatih pikiran dan jiwa Anda dalam imajinasi. Lebih lengkapnya tentang teknik ini bisa Anda baca pada ebook dan audio Beautiful Mind Power.
  2. Mulailah menjalani proyek, yang paling mudah ialah mulai berbisnis dengan resiko yang sedikit menantang. Kenapa harus “sedikit menantang”, karena tanpa tantangan ibarat tanpa beban. Kenapa harus sedikit? Ini adalah tahapan awal.
  3. Tingkatkan tantangan Anda.
  4. Terus lakukan, tidak ada akhirnya sampai akhir hayat.
Jadi, dalam prakteknya tidak ada yang disebut berpikir dan berjiwa besar sempurna. Anda akan selalu bisa meningkatkan berpikir dan berjiwa besar.

Sumber: http://www.motivasi-islami.com/berpikir-dan-berjiwa-besar-dalam-praktek/

Senin, 05 September 2011

Wajah Bulan yang Tersembunyi

Wajah Bulan Yang Tersembunyi
Mungkin banyak yang tidak mengetahui bahwa wajah bulan yang menghadap kebumi selalu sama. Ya bulan tidak berotasi seperti bumi, rotasi bulan adalah bersama-sama dengan revolusi bulan.

Rotasi adalah perputaran benda pada suatu sumbu yang tetap, misalnya perputaran gasing dan perputaran bumi pada poros/sumbunya. Untuk bumi, rotasi ini terjadi pada garis/poros/sumbu utara-selatan (garis tegak dan sedikit miring ke kanan). Jadi garis utara-selatan bumi tidak berimpit dengan sumbu rotasi bumi, seperti yang terlihat pada “globe bola dunia” yang digunakan dalam pelajaran ilmu bumi/geografi. [wikipedia]
Revolusi bumi adalah peredaran bumi mengelilingi matahari. Sedangkan Revolusi Bulan ada dua, yaitu mengelilingi bumi, dan mengelilingi matahari bersama-sama dengan bumi. Secara mudah tergambarkan dalam video seperti dibawah ini :
Wajah bulan yang selalu menghadap ke bumi
Rotasi Bumi memerlukan waktu 24 jam untuk satu kali berputar. Revolusi bumi mengitari matahari memerlukan waktu 365 hari (1 tahun). Sedangkan Rotasi Bulan terlihat memiliki perilaku yang berbeda dengan bumi. Revolusi bulan mengelilingi bumi memerlukan waktu 27.3 hari, demikian juga waktu yang diperlukan untuk rotasinya. Kalau Bumi berotasi, dan juga memiliki gerakan revolusi mengelilingi matahari. Bulan memiliki gerakan revolusi terhadap bumi dan terhadap Matahari. Dengan demikian, muka (wajah bulan) yang menghadap ke bumi selalu sama. Bagaimana melihat sisi dibalik wajah bulan ?

Wajah bulan yang tersembunyi.

Karena bulan mengelilingi bumi tetapi laju rotasinya sama dengan laju revolusinya maka muka bulan yang menghadap ke bumi selalu sama. Wajah bulan yang terlihat dibumi selalu sama. Walaupun bumi memiliki kecepatan rotasi 24 jam untuk satu kali putaran, bulan memiliki kecepatan rotasi dan revolusi yang sama yaitu selama 27.3 hari.
 

Hingga tahun 1959, manusia hanya mampu melihat satu sisi saja. Pada tahun 1959 itu Soviet meluncurkan Luna-3. Pesawat yang mampu mengambil gambar sisi luar dari Bulan. Tahun 2009 NASA kembali meluncurkan satelit dengan kamera lensa lebar (Wide angle) khusus untuk melihat sisi yang selalu tersembunyi ini. Satelit ini dinamakan Lunar Reconnaissance Orbiter Camera (LROC) Wide Angle Camera (WAC). Dengan satelit ini wajah bulan difoto berulang-ulang sambil mengelilingi bulan dan dibuat mosaic sehingga diketahui banyak sisi luar bulan yang sebelumnya tak terlihat dari bumi. Wajah bulan dari riset NASA ini baru dirilis bulan Maret 2011 ini, dapat dilihat dibawah ini. Lihat bagian yang relatif mulus dan bagian yang relatif bopeng akibat perbedaan kerak bulan.
Sisi-sisi bulan yang halus dan kasar.
Ada yang menarik dari sisi terluar ini. Ya wajahnya ternyata lebih blentong-blentong diperkirakan karena memiliki ketebalan kerak (lapisan dingin padat) yang lebih tebal dan dataran tinggi mendominasi kerak. Sebuah dunia yang berbeda dari apa yang kita lihat dari Bumi. Mengapa kerak disana lebih tebal ? Itu masih banyak diperdebatkan. Salah satu kemungkinan adalah karena gaya centripetal yg mendominasi satu sisi dan mengontrol densitas dari kerak.

Dengan adanya wajah lengkap bulan ini maka riset tentang bulanpun dimulai. Dan tempat turunnya Apollo juga dicari-cari lagi. Barangkali untuk menangkal atau membuktikan pendaratan Apollo 11 di Bulan pada tahun 1969 itu. Dibawah ini lokasi pendaratan misi Apollo-Apollo mulai Apollo 11 yang dirilis pada terbitan pertama LROC tahun 2009.

.”]

Apollo 11 (UL; 282 meters wide), Apollo 15 (UR; 384 meters wide), Apollo 16 (ML; 256 meters wide), Apollo 17 (MR; 359 meters wide), Apollo 14 (Bottom; 538 meters wide) [NASA/GSFC/Arizona State University
Nah kalau ingin melihat wajah bulan secara lengkap bisa dilihat dibawah ini. Ayo dicari dimana Apollo mendarat ? :
Related Links:
Sumber: Dongeng Geologi, http://rovicky.wordpress.com/2011/03/24/wajah-bulan-yang-tersembunyi/
Sumber gambar : NASA.